Pada suatu pagi, seorang ibu penjaja perhiasan berjalan sambil menawarkan berbagai perhiasan yang dijualnya. "Ayo, silakan dipilih! Perhiasan-perhiasan bagus. Banyak macamnya"
Seorang pria bertubuh tinggi besar menghampiri ibu tersebut. "Boleh saya lihat kalung yang paling mahal, Mbak?".
Tentu saja hal tersebut membuat ibu penjual perhiasan merasa senang dan bersemangat. “Boleh,” jawab ibu tersebut sambil memperlihatkan kotak berisi kalung berhiaskan rubi.
“Wah, bagus sekali,” kata pria tersebut sambil menyeringai.
“Iya, harganya lima juta,” jawab ibu penjual perhiasan.
“Terima kasih!”, pria tersebut tiba-tiba merampas kotak berisi kalung dan berlari secepat mungkin.
Sontak ibu penjual perhiasan langsung menjerit “TOLONG!!! JAMBRET!!!”.
Pria tersebut berlari secepat mungkin dengan perasaan senang karena berhasil mendapatkan benda mahal. Tiba-tiba ia dihadang oleh seorang polisi yang mengacungkan senjata ke arahnya, “Angkat tangan, Penjahat!”
“Emangnya gue takut ama lu?”, jawab penjahat tersebut sambil berusaha berbalik badan, namun ia dihadang oleh polisi lain yang berdiri di belakangnya.
“Kepung dia, Bobby!”, perintah polisi tersebut pada polisi pertama.
“Siap, Joseph,” jawab Bobby.
Si penjahat tampak tidak takut pada mereka. “Kalian harus lawan gue dulu! Kalian belom kenal gue, Yudi si Hebat”.
“Bacot! Mendingan kau menyerah saja!”, kata Joseph.
“ENGGAK AKAN!!”, jawab Yudi si penjahat.
Joseph dan Bobby bertarung melawan Yudi. Saat bertarung, kotak berisi kalung terlempar dan tergeletak di lantai, lalu langsung dipungut oleh seseorang. Yudi yang pada saat itu sedang dikerubungi Joseph dan Bobby, melihat hal tersebut. “Hey! Ada yang ambil kalung itu..,” teriak Yudi.
Mendengar teriakan Yudi, para polisi langsung menoleh. Orang tersebut segera kabur sambil membawa perhiasan tersebut tanpa kotaknya.
“Kejar dia!”, perintah Joseph.
“Terus orang ini bagaimana?”, tanya Bobby yang sedang meringkus dan memegangi Yudi.
“Biarkan saja! Kita kejar orang itu dulu. Dia bawa kabur kalungnya,” jawab Joseph.
Maka Joseph dan Bobby meninggalkan Yudi dan bergegas mengejar pencuri kalung itu, namun si pencuri sangat gesit sehingga sulit tertangkap. Setelah si pencuri berhasil lolos, Joseph dan Bobby kembali ke tempat mereka meninggalkan Yudi, tetapi Yudi sudah tidak ada.
Sial! Kita gagal menangkap dua penjahat,” rutuk Joseph.
“Iya ya, mestinya tadi salah satu dari kita ringkus penjahat pertama dan seorang lagi mengejar yang kedua,” jawab Bobby. “Tapi sudahlah, tak perlu dipusingkan. Lebih baik kita laporkan hal ini ke ibu penjual perhiasan”.
Mereka berdua pun kembali ke ibu penjual perhiasan dan menceritakan semuanya. Ibu tersebut marah-marah pada mereka, “Gimana sih kalian? Sekarang kalung saya hilang. Kenapa kalian bodoh sih?”
“Kami minta maaf atas kecerobohan kami,” kata Joseph.
“Kami janji untuk mendapatkan kembali kalung itu,” sambung Bobby.
“Caranya bagaimana? Emang kalian yakin bisa?”, tanya ibu itu meremehkan mereka.
“Jangan begitu, Bu! Kami akan berusaha sebaik mungkin,” kata Bobby berjanji.
Ibu itu tampak kesal, namun akhirnya berusaha mengerti. “Awas kalau sampai kalian gagal. Saya akan nuntut kalian sebanyak 5 juta,” ancamnya.
Joseph mengangguk. “Baiklah kalau begitu!”
***
Di sebuah sekolah musik, seorang guru masuk ke dalam sebuah kelas. Saat itu hari sudah menjelang siang. Beliau membawa sebuah poster, lalu beliau menjelaskan poster tersebut pada siswa-siswi.
“Selamat siang, Bu Crusita!”, sapa para siswa secara serempak.
Bu Crusita tersenyum. “Selamat siang, anak-anak! Nah, ibu mau memberi pengumuman.”
“Pengumuman apa, Bu?”, tanya seorang siswi yang bernama Halin.
“Sekolah kita mengadakan konser musik besok. Para pesertanya adalah siswa-siswi sekolah ini. Ibu mengharapkan partisipasi kalian,” ajak Bu Crusita
Seorang siswi bernama Angel mengangkat tangannya, “Saya ikut, Bu.”
“Saya juga,”. Halin ikut mengangkat tangannya.
Bu Crusita merasa senang karena banyak siswa yang berpartisipasi. “Terima kasih atas partisipasi kalian,” kata Bu Crusita sambil tersenyum. “Nah, poster yang Ibu pegang ini akan menjelaskan lebih banyak tentang konser tersebut. Ibu akan tempel di papan pengumuman biar kalian bisa baca.”
Setelah selesai menempel poster, Bu Crusita keluar dari kelas.
“Gue bakal maen lagu yang bagus. Gue pasti menang,” kata Halin bersemangat. Namun hal tersebut malah membuat Angel kesal.
“Jangan belagu! Buktiin deh kalo lu bisa!”, tantang Angel.
Halin merasa risih mendengar perkataan Angel yang sewot, “Isshh… Apaan sih?! Memangnya lu lebih jago dari gue?”
“Paling nggak, lu jangan sombong gitu!”, jawab Angel.
“Kita lihat saja nanti, pas pertunjukkan!”, kata Halin kemudian.
“Sip! Siapa takut?”, jawab Angel.
Dialog di antara mereka berdua memunculkan aura tegang di dalam kelas sehingga mereka menjadi pusat perhatian para siswa lainnya yang terbujur kaku melihat perseteruan mereka. Beberapa dari mereka mulai berbisik. Sebetulnya mereka tidak heran dengan suasana ini dikarenakan sejak dulu Halin dan Angel memang terkenal sebagai musuh bebuyutan. Mereka selalu bersaing setiap ada pertunjukan bakat dan saling menunjukkan perasaan tidak suka satu sama lain.
Akhirnya, kelas pun bubar. Sekolah telah usai. Halin menuju ke gerbang depan sekolah untuk bertemu kakaknya yang selalu menjemputnya dari sekolah. Di depan gerbang, tampak Joseph sedang duduk di atas motor dengan masih mengenakan seragam polisi yang dibalut dengan jaket kulit yang tebal.
Halin menemui kakaknya itu. “Kakak Joseph, Besok sore ada konser musik. Halin ikut main piano. Kak Joseph ikut nonton ya,” kata Halin bersemangat.
Joseph kagum mendengarnya, “Wah, lu hebat. Kalau bisa, besok gue mau nonton.”
“Kak Joseph dukung Halin ya.”
“Iya dong. Adik Joseph pasti menang lomba.”
Kemudian mereka berdua pulang bersama.
***
Keesokan harinya, tampak para siswa peserta konser sedang bersiap-siap. Bu Crusita menyambut para penonton.
“Hadirin yang terkasih! Kami bersyukur atas kehadiran kalian semua untuk memeriahkan konser musik ini. Kami mengadakan konser ini untuk menunjukkan bakat-bakat para murid sekaligus untuk meningkatkan rasa percaya diri mereka. Semoga para hadirin dapat terhibur atas lagu-lagu yang dipersembahkan oleh para murid. Atas perhatiannya, kami mengucapkan terima kasih dan selamat menikmati pertunjukkan.”
Para murid bergantian menunjukkan keahlian mereka dalam bermain piano. Halin mendapat giliran maju setelah Angel. Joseph juga hadir di sana sebagai penonton. Angel pun bermain dengan sangat indah dan merdu.
Tiba-tiba HP Joseph berdering. Ia menjawabnya. Ternyata dari Bobby. “Ya, Bobby? Ada apa?”
“Lu ada di mana? Kok rame gitu suaranya?”, tanya Bobby heran.
“Gue lagi nonton pertunjukkan musik,” jawab Joseph. “Emang kenapa?”
“Lu cepetan datang ke tempat ibu penjual perhiasan kemarin dirampok. Kita kan harus tangkap penjahat,” jawab Bobby.
Joseph terkejut. “Sekarang?! Adek gue sebentar lagi maju.”
“Tugas kita sekarang lebih penting. Gue punya rencana buat nangkap penjahat. Ayo buruan ke sini!”, jawab Bobby.
Joseph hanya bisa pasrah. “Iya deh!”, jawabnya sambil menutup telepon, kemudian ia menelepon Halin yang saat ini tengah berada di belakang panggung.
Halin mengangkat hp-nya, “Ya, Kak Joseph?”
“Halin, sorry ya. Gue gak bisa lihat lu tampil. Gue ada tugas mendadak,” kata Joseph menyesal.
Halin merasa kecewa mendengarnya, namun tidak dapat berbuat apa-apa. Ia harus memaklumi kesibukan kakaknya yang bertugas sebagai aparat keamanan dan penegak hukum. “Ya sudah, gapapa deh. Tapi kalau bisa, kakak cepet balik ya,” kata Halin.
“Iyaa, Gue pergi dulu ya, daag,” pamit Joseph sambil menutup telepon.
Tepat pada saat itu, Halin mendengar namanya dipanggil untuk mempertunjukkan bakatnya. Halin pun maju ke atas panggung dan bermain piano dengan sangat indah hingga membuat penonton terpukau.
***
Setibanya Joseph di TKP, di sana sudah ada Bobby dan ibu penjual perhiasan yang menunggu dirinya.
“Akhirnya lu datang juga, Sep,” sambut Bobby.
“Ya, jelasin rencana lu sekarang!”, jawab Joseph tidak sabar.
Bobby menjelaskan rencananya, “Jadi tadi gue dan ibu ini sudah sepakat. Nanti ibu ini akan berjualan lagi untuk jadi umpan biar penjahat datang lagi, sementara kita berdua sembunyi. Kalau ada penjahat yang datang, kita langsung sergap.”
“Emangnya lu yakin kalau yang muncul adalah penjahat yang sama?”, tanya Joseph kritis.
Bobby mengangkat bahu. “Seharusnya begitu. Karena menurut analisis gue, kedua penjahat itu sepertinya memang mengincar perhiasan ibu ini. Paling nggak, salah satu penjahat akan datang.”
Joseph mengangguk. “Oke, Ibu sudah siap?”, tanya Joseph pada ibu penjual perhiasan dan dijawab oleh anggukan ibu itu. “Ya, kali ini jangan sampai gagal!”.
“Yuk Joseph, kita sembunyi di situ,” ajak Bobby sambil menunjuk suatu tempat.
Maka Joseph dan Bobby bersembunyi. Ibu itu kembali menjajakan perhiasan tidak jauh dari tempat persembunyian para polisi. Selang beberapa saat, pencuri yang kedua muncul.
“Ternyata kamu masih berani jualan. Cepat serahkan semua perhiasanmu kalau masih mau hidup!”, ancam penjahat itu sambil menarik-narik kotak berisi perhiasan yang dipegang ibu penjual. Namun ibu itu berusaha menahan kotak perhiasannya dengan kuat, “ENGGAAAKKKKK!!!!!!!!!!!!!”
Joseph segera berbisik pada Bobby, “Ayo serbu!”
Joseph dan Bobby keluar dari tempat persembunyian dan mengarahkan senjata mereka pada penjahat itu yang langsung terkejut ketika melihat mereka.
“Menyerahlah, Kawan! Sekarang saatnya kau masuk penjara,” perintah Joseph.
Melihat dirinya dikepung, penjahat itu segera melepaskan tangannya dari kotak perhiasan yang dipegang ibu penjual, lalu berusaha kabur.
“KEJAR!!!!”, perintah Joseph sambil berlari bersama Bobby, mengejar penjahat itu hingga akhirnya terpojok pada sebuah tembok. Kemudian mereka bertarung.
Sementara itu di tempat konser, Halin baru saja selesai bermain piano. Penonton bertepuk tangan dengan meriah. Halin menoleh ke arah kursi yang disediakan untuk kakaknya, tampak masih kosong, membuat Halin kecewa namun berusaha memaklumi. Halin menghembuskan napas panjang, lalu menunduk hormat kepada penonton dan berjalan ke belakang panggung.
Akhirnya, penjahat tersebut berhasil dikalahkan. Joseph dan Bobby pun menggeledah penjahat tersebut dan menemukan kalung rubi yang pertama kali dicuri di dalam saku penjahat itu. Mereka memborgol penjahat itu sambil menginterogasinya. Ternyata ia memang sudah lama mengintai ibu penjual perhiasan dan menunggu waktu yang tepat untuk berkesempatan merampok dagangannya. Walaupun begitu, ia bekerja secara individu dan sama sekali tidak mengenal Yudi, si penjahat yang ternyata mendahului dirinya merampok perhiasan.
Seusai mengamankan penjahat tersebut, Joseph dan Bobby mengembalikan kalung rubi itu pada ibu penjual perhiasan yang langsung menyambut mereka dengan gembira karena kalungnya kembali. Ia menyalami mereka berdua dengan penuh syukur, “Wah, makasih banyak ya. Kalian berdua ternyata hebat.”
“Ya, lain kali bila ada perampokan lagi, kami siap menanganinya,” jawab Joseph.
Bobby tersenyum bangga. “Baiklah, kami sekarang pergi dulu ya,” pamitnya.
“Bobby, lu mau ikut nonton konser?”, tanya Joseph.
“Iya, gue mau ikut. Yuk jalan,” ajak Bobby.
Mereka berdua pun pergi bersama-sama dengan motor mereka. Tanpa mereka sadari, Yudi mengintai dan mengikuti mereka dari belakang.
***
Joseph dan Bobby pun berjalan menuju konser. Sesampainya mereka di sana, Joseph dan Bobby merasa sangat kecewa karena tidak bisa menonton Halin. Kini pemain sudah berganti ke orang lain.
“Yahh, Halin sudah selesai. Kita gak bisa nonton deh,” keluh Joseph kecewa.
“Yuk kita ke belakang panggung, kasih selamat ke dia,” ajak Bobby.
“Mana boleh kita masuk ke belakang panggung. Kita tunggu saja, dia pasti sebentar lagi keluar,” jawab Joseph.
Tak lama kemudian, Halin keluar dari panggung dan menemui mereka.
“Halo, Kak Joseph. Tadi Halin sudah tampil lho,” sapa Halin.
“Iya, sayang banget kita berdua nggak bisa lihat lu,” jawab Joseph.
“Gapapa lah! Hehehe,” jawab Halin lagi.
“Tadi lu mainnya bagus kan?”, tanya Bobby.
Halin mengangkat bahunya. “Yah, semua penonton tepuk tangan. Meriah banget. Tapi gak begitu yakin menang, soalnya banyak yang lebih jago dari Halin,” jawabnya.
Tiba-tiba Joseph menunjuk ke arah panggung. “Eh, itu sudah mau pengumuman pemenang ya?”, tanya Joseph saat melihat Bu Crusita berjalan ke depan panggung.
Halin menoleh. “Kayaknya sih, iya. Duh, deg-degan nih,” jawab Halin.
Bu Crusita mulai berbicara, “Para hadirin, tadi kita semua sudah melihat bagaimana para murid mengerahkan segala keterampilan mereka dengan baik. Sekarang kami akan menentukan siapa pemenang dari konser ini. Bagi yang tidak juara, jangan putus asa, sebab perjuangan masih panjang. Lain kali kalian masih bisa menang, asalkan kalian terus berlatih dengan rajin”.
Halin tampak tidak sabar. “Duuh! Lama banget sih. Bu Crusita kenapa harus basa-basi dulu? Deg-degan nih. Menang gak, ya?”
“Sabar, Lin! Sabar!”, kata Joseph menenangkan.
Bu Crusita melanjutkan pidatonya. “Maka atas keputusan para juri yang menilai, kami mengumumkan bahwa pemenangnya adalah ……………………. HALIN”.
Tepuk tangan sangat meriah. Halin terkejut mendengar namanya disebut sebagai pemenang. Kemudian ia berjalan maju ke panggung.
Bu Crusita menyalami Halin. “Selamat ya, Halin. Kamu sukses menjadi juara dalam konser ini”.
Halin tersenyum bangga. “Saya tak bisa berkata-kata lagi, Bu,” katanya sambil terharu.
Tiba-tiba Angel muncul di atas panggung. “Halin!”, seru Angel.
Halin pun menoleh karena dipanggil. “Angel?”, tanya Halin kebingungan. Tak seperti biasanya saingannya itu menghampiri ketika Halin menang. Biasanya Angel hanya memandangnya sambil cemberut. Namun kali ini sikap Angel sangat berbeda.
Angel pun menyalami Halin. “Selamat ya”.
Hal tersebut membuat Halin semakin heran, namun berusaha tersenyum dan membalas, “Iya. Makasih ya”.
“Sama-sama”., jawab Angel.
Halin kembali ke tempat duduk, lalu duduk di sebelah Joseph.
“Ciee… Juara. Hahaha,” goda Bobby.
“Ya jelas dong. Adek gue kan hebat,” jawab Joseph bangga sambil menyeringai.
Halin memegangi dadanya. “Halin senang banget deh. Eh, aku sebenarnya gak nyangka si Angel baik banget sama Halin. Aku sangka dia orangnya sombong. Tapi tadi tuh dia menyalami Halin,” kata Halin.
“Angel itu siapa?”, tanya Joseph.
“Yang tadi kasih salam ke Halin ya?”, tebak Bobby.
Halin mengangguk. “Iya, dia saingan Halin. Dia orangnya belagu banget, nganggap dia paling jago main musik di sekolah. Tuh orangnya,” jawab Halin sambil menunjuk ke arah Angel.
Joseph melihat Angel sekilas. “Yaya,” jawab Joseph yang tidak tertarik mendengar kesinisan Halin.
Halin mendelik sinis, “Ah, palingan dia cuma sok baik sama Halin”.
“Sudahlah gapapa. Halin mau ke toilet dulu rapiin make-up,” kata Halin sambil berlalu pergi, bersamaan dengan Bu Crusita yang kembali muncul di atas panggung. “Penonton sekalian, sebagai penutup acara hari ini, teman kami yang bernama Cahyanto akan menyanyikan sebuah lagu untuk kalian semua. Mari tepuk tangan untuknya!”, kata beliau sambil bertepuk tangan, diiringi dengan tepuk tangan para penonton.
Setelah tepuk tangan yang meriah, penonton kembali tenang. Cahyanto mulai menyanyi. Penonton sangat terpukau oleh suara Cahyanto yang merdu, begitu juga Joseph dan Bobby. Mereka tidak sadar bahwa Yudi mengintip dari belakang mereka. Tangannya memegang sebilah pisau.
Yudi bergumam pelan, “Gue harus habisi mereka berdua, biar gue bisa bekerja dengan tenang”. Yudi mengendap-endap mendekati Joseph dan Bobby. Ia tidak sadar bahwa gerakannya tertangkap oleh mata Angel yang kebetulan melihat dirinya dari agak jauh.
Angel mengernyitkan matanya. “Siapa sih? Kok gerakannya mencurigakan? Ada apa ya?”, gumam Angel bingung dan curiga. Namun kebingungannya segera berganti menjadi terkejut saat melihat orang mencurigakan tersebut mengacungkan pisau tepat di atas kepala Joseph, sementara Joseph dan Bobby masih belum menyadari bahaya. Cepat-cepat Angel mengambil tasnya, lalu memukul Yudi dengan tas tersebut hingga pingsan.
Joseph terkejut saat melihatnya, “Gila! Yudi nyaris ngebunuh gue”.
“Yuk, kita bawa dia ke kantor polisi,” ajak Bobby.
Joseph memandang Angel. “Kamu yang namanya Angel kan? Makasih ya, Angel. Untung kamu lihat. Mungkin saya sudah mati kalo gak diselamatin kamu,” ucap Joseph.
“Iya. Aku sendiri juga kaget lihat orang itu bawa-bawa pisau,” jawab Angel.
“Ya deh. Sekali lagi makasih ya,” ucap Joseph lagi yang dibalas dengan anggukan Angel.
Joseph dan Bobby membopong Yudi. Saat di pintu keluar, Halin menghampiri mereka dengan bingung dan terkejut. “Walah! Ada apa ini?”, tanya Halin.
“Orang ini tadi hampir bunuh gue,” jawab Joseph.
Halin terkejut mendengarnya, “HAH?! Kok bisa?!”
“Tadi dia sudah mau nusuk Joseph pake pisau. Terus Angel datang, mukul Yudi pakai tasnya,” jawab Bobby.
“Hah??? Angel?”, tanya Halin tak percaya.
“Iya. Angel yang nyelamatin gue. Dia memang baik kok,” jawab Joseph.
Halin menggelengkan kepalanya. “Wah! Gue gak nyangka, lho. Eh, omong-omong kenapa orang ini mau bunuh Kak Joseph?”, tanya Halin.
“Karena dia salah satu penjahat yang harus kita tangkap,” jawab Bobby.
Halin mengangguk, “Oo….. Penjahat berbahaya”.
“Ya, penjahat berbahaya yang kalah sama cewek. Hihi,” jawab Bobby terkikik.
“Kita pergi dulu ya, mau bawa orang ini ke kantor polisi,” pamit Joseph.
“Oke deh,” jawab Halin.
Setelah Joseph dan Bobby pergi, Halin menemui Angel dan memeluknya. “Angel, makasih banget sudah nyelamatin kakak gue”.
Angel terkejut mendengarnya, “Hah? Itu tadi kakak lu?”, tanyanya heran.
“Iyaa lah, hahaha,” jawab Halin.
“Yaa, sama-sama,” jawab Angel singkat.
“Kita makan bareng yuk di luar,” ajak Halin.
Dan sejak saat itu mereka bersahabat.
TAMAT