Ada sebuah keluarga yang terdiri dari sepasang suami-istri, Vincent & Utami, serta kedua putri mereka, Astri & Titi. Astri adalah mahasiswi yang lembut dan dewasa. Sedangkan adiknya, Titi adalah anak yang polos dan manja. Suatu hari, mereka sedang sarapan bersama.
"Anak-anak, hari ini papi dan mami akan menghadiri rapat kantor. Jadi kami tidak bisa menjemput Titi dari sekolahnya. Astri, tolong sepulang kuliah kamu jemput Titi.", kata Vincent.
"Baik, Pi.", jawab Astri.
"Boleh nggak, Titi pulang sendiri. Kan jarak dari sekolah ke rumah tidak terlalu jauh.", tanya Titi.
"Tidak boleh! Kamu belum mampu untuk pulang sendiri. Kamu masih lugu.", jawab Utami.
"Tapi Titi mau pulang sendiri.", mohon Titi sambil memelas.
"Berilah ia kesempatan, Mi. Mungkin ia sudah bisa.", kata Astri.
"Titi belum bisa, Astri. Kamu tetap harus menjemputnya.", kata Utami.
"Baik Mi.", kata Astri.
"Huh! Titi diperlakukan seperti anak kecil.", keluh Titi.
Maka jam 2 siang, Astri baru saja mau bergegas ke sekolah Titi dari kampusnya. Tiba-tiba Edward datang sambil membawa buku tebal.
"Astri, tolong ajari gue bab 12 ya. Tadi gue ketinggalan bab itu, soalnya gue lagi ada urusan di tata usaha.", kata Edward.
"Boleh Edward, tapi jangan lama-lama. Gue harus jemput Titi dari sekolahnya.", jawab Astri.
"Sip. Nanti gue sekalian ikut loe, ya. Habis jemput Titi, kita jalan-jalan di taman sambil beli es krim.", jawab Edward.
"Boleh. Sekarang gue mau jelasin bab 12.", kata Astri.
Sementara di sekolah, Titi menunggu Astri sebentar. Namun karena Astri tidak cepat muncul, Titi tidak sabar. Ia mencoba berjalan mencari jalan pulang, tetapi ia tidak hafal rute pulang. Akhirnya ia berhenti di sebeuah halte yang tidak terlalu jauh dari sekolahnya. Lalu muncul seorang pemuda bernama Tommy. Ia melihat Titi dan tertarik untuk menggodanya.
"Wah, sepertinya anak itu bingung. Ajak ngobrol, ah..", gumam Tommy dengan tampang sinis. Lalu ia mendekati Titi.
"Kamu belom pulang, Dek?", tanya Tommy. Titi menoleh.
"Belom, Kak. Kak Astri belom jemput. Titi gak tau jalan pulang.", jawab Titi.
"Astri itu kakakmu? Dia cantik ga? Pasti juga kaya.", kata Tommy.
"Kakak siapa? Papi bilang Titi gak boleh kasih tau hal-hal pribadi ke orang yang gak dikenal.", jawab Titi.
"Oh, Kalau begitu kita kenalan dulu donk. Nama kakak Tommy. Jadi sekarang Titi sudah kenal kakak ya. Rumahmu dimana, Dek?", tanya Tommy.
"Gak tahu. Makanya Titi ga bisa pulang, harus tunggu Kak Astri jemput.", jawab Titi polos.
Dalam hati Tommy berkata, "Dasar anak dodol. Mendingan kubawa dia pulang aja. Biar bisa bersenang-senang. Hahah.".
Lalu Tommy menarik tangan Titi sambil berkata, "Ayo, kakak temani kamu pulang."
Mereka pun berjalan pergi. Sementara itu Astri dan Edward telah sampai di sekolah, tetapi mereka tidak menemukan Titi.
"Aduh, Titi dimana ya?", tanya Astri cemas.
"Kita tanya satpam saja, yuk. Mungkin saja mereka tahu.", usul Edward. Mereka berdua pun menemui dua orang satpam yang bernama Rio dan Hasan.
"Permisi, Pak. Apa Bapak kenal Titi, adik saya? Bapak tahu dimana dia sekarang?", tanya Astri.
"Ya, kami kenal Titi. tapi maaf, aku tidak melihatnya.", jawab Hasan.
"Tadi saya lihat dia pergi meninggalkan sekolah sendirian. Maaf, Bu. Saya tidak akan mencegahnya pergi sendiri kalau saja saya tahu ibu mau menjemputnya.", kata Rio dengan wajah penuh penyesalan.
"Apa?! Jadi Titi pergi sendiri. Aduh, bagaimana kalau dia hilang?", jawab Astri terkejut. Ia mulai merasa resah.
"Tenang, Astri. Kita pasti bisa menemukan Titi. Pasti dia belum jauh dari sini.", kata Edward menenangkan.
"Ini salah gue. Gue ingat tadi pagi dia bilang dia mau pulang sendiri. Pasti dia sengaja cepat pergi sebelum gue jemput.", kata Astri menyesal.
"Kami akan bantu kalian. Kami juga tidak mau Titi tersesat.", kata Hasan berjanji.
Sementara itu, Tommy dan Titi berhenti di depan sebuah rumah.
"Kita ada dimana, Kak?", tanya Titi bingung.
"Di rumah gue. Kita istirahat dulu di sini, ya.", jawab Tommy.
"Katanya Kak Tommy mau antar Titi pulang.", kata Titi protes.
"Gak usah banyak omong! Cepat masuk!", perintah Tommy dengan suara mulai meninggi.
"Kita mau ngapain di sana?", tanya Titi lagi.
"MASUK!!!", bentak Tommy sambil mendorong Titi hingga hampir terjatuh.
"Kak Tommy mau ngapain?", tanya Titi mulai ketakutan.
"Mau bersenang-senang, Dek. Haha.", jawab Tommy santai. Ia menutup pintunya.
"Titi takut, Kak. Titi mau pulang aja.", mohon Titi. Tetapi Tommy semakin mendekat. Titi cepat-cepat berlari sambil mengambil HP, hendak menelepon Astri.
"Kak Astri!!!", panggil Titi dalam telepon.
"Titi, kamu ada dimana?", tanya Astri sedikit lega karena Titi meneleponnya.
"Kak, Titi disandera sama Kak Tommy. Tempatnya ada di gang kecil di antara rumah susun. Cepat datang ya, Kak!!", mohon Titi sambil terus menghindari Tommy yang terus mengejarnya. Tetapi Tommy berhasil merebut HP itu dari tangan Titi, kemudian mematikannya.
"Jangan macam-macam!", kata Tommy.
"TITI!!!!!!!!!!!!", teriak Astri memanggil adiknya, tetapi hubungan telepon segera terputus.
"Ada apa, Astri?", tanya Edward.
"Titi disandera orang yang bernama Tommy. Kita harus cepat menyelamatkannya.", jawab Astri panik.
"Tommy?! Gawat!", kata Edward. Tiba-tiba saja wajahnya berubah sangat khawatir.
"Loe kenal Tommy?", tanya Astri lagi.
"Tommy adalah teman SMA gue dulu. Tapi dia suka tawuran, bahkan di sekolah sampai dia dikeluarin dari sekolah. Kalau Titi dibawa dia, gue gak bisa ngebayangin nasibnya Titi.", cerita Edward.
"Astaga!! Jangan sampai terjadi sesuatu pada Titi!", kata Astri lagi. Kini ia sungguh-sungguh panik.
"Ada masalah apa, Bu?", tanya Rio.
"Adik saya disandera. Tolonglah kami, Pak. Bantu kami menyelamatkan Titi.", jawab Astri memohon.
"APA?! Adikmu disandera? Wah, ini kasus serius yang harus segera ditangani.", jawab Hasan.
"Kita harus cepat menyelamatkannya. Dimana lokasi kejadiannya?", tanya Rio.
"Di gang kecil antara rumah susun.", jawab Astri.
"Gue tahu tempat itu. Rumah Tommy masih di tempat yang sama. Ayo, kita kesana.", kata Edward.
Maka mereka pun segera menuju tempat itu. Sementara Titi terpojok di depan Tommy. Ia duduk di ujung tembok. Tommy menghalangi Titi agar tidak dapat menghindar.
Titi mulai menangis. Ia memohon, "Tolong jangan sakiti Titi, Kak."
"Loe ngerti artinya 'perkosa'? Gue bisa nunjukkin ini buat loe.", kata Tommy.
"Tapi Titi belum cukup umur untuk diperkosa.", jawab Titi polos.
"Diam saja loe!", jawab Tommy.
Tiba-tiba pintu didobrak oleh Hasan. Tommy menoleh, melihat mereka yang berdiri di depan pintu.
"Astaga!! Titi!", jerit Astri.
"Tolong Titi, Kak.", kata Titi.
"Lepaskan dia, Tommy. Jangan hanya berani sama anak kecil. Jangan jadi Cemen.", kata Edward.
"Bacot loe, Edward. Ngapain loe ke sini?", jawab Tommy.
"Mari ikut kami, Pak.", kata Rio sambil menyeret Tommy dibantu Hasan.
"Kamu harus diberi pelajaran atas perbuatanmu pada anak ini.", kata Hasan.
Astri segera memeluk Titi dan bertanya, "Kamu baik-baik saja, Titi?". Titi menggeleng-gelengkan kepalanya sambil terus menangis.
"Sudah! Tenang, Titi! Kamu sudah selamat sekarang. Lihat!", kata Edward menenangkan sambil menunjuk Tommy yang dipegangi kedua satpam. "Tommy kini sudah tertangkap. Dia enggak akan mengganggumu lagi. Kamu enggak perlu takut sekarang."
"Selamat tinggal, Titi. Mungkin kita bisa ketemu lagi. Tunggu saja tanggal mainnya!", kata Tommy berusaha melepaskan tangannya yang terus dipegang dengan erat.
"Titi, dia enggak akan mengganggu kamu lagi. Tapi janji ya, kamu jangan pernah jalan sendirian lagi.", kata Edward menenangkan. Titi mengangguk. Lalu mereka bertiga berjalan keluar. Astri merangkul adiknya yang masih menangis. Namun kini Titi mulai merasa tenang. Edward mengantar mereka berdua ke rumah mereka.
Ketika Astri dan Titi masuk ke dalam rumah, orangtua mereka terlihat cemas. Begitu mereka melihat kedua putri mereka, Utami langsung marah.
"Kalian ke mana saja sampai pulang lama? Astri, seharusnya kamu telepon dulu kalau mau pulang lama. Kasihan Titi. Untung dia baik-baik saja.", kata Utami kesal.
"Iya, Mi. Maafkan Astri.", jawab Astri pelan.
"Baik-baik saja? Mami, tadi Titi hampir diperkosa.", jawab Titi mengejutkan kedua orangtuanya.
"A..a..APA?!", tanya Vincent sungguh kaget.
"Yang benar saja, Titi!", kata Utami dengan suara bergetar.
"Iya, Mi. Tadi Titi nyaris diperkosa. Untunglah kami segera datang dan menolongnya.", jawab Astri membenarkan.
"Astaga, Titi. Lain kali kamu harus lebih hati-hati, Nak. Kota ini benar-benar tidak aman. Orang yang mau memperkosamu bisa langsung membunuhmu. Astri, mulai sekarang Titi harus dijaga dengan ketat. Kasihan dia. Pasti shock karena hampir diperkosa.", kata Utami tegas. Ia memeluk Titi dengan erat.
"Titi masih takut sama Kak Tommy.", kata Titi sambil memeluk ibunya.
"Dia sekarang sudah dibawa ke kantor polisi. Kamu jangan takut lagi, sayang.", kata Astri menenangkan. Ia iba melihat wajah adiknya ketakutan.
"Sekarang kalian ganti baju dulu. Nanti kita berkumpul di ruang makan untuk makan malam.", kata Utami.
"Baik, Mi.", jawab Astri sambil menuntun Titi. Mereka pun masuk ke kamar mereka dan berganti pakaian. Kemudian mereka menuju ruang makan.
Saat makan, Utami berkata, "Titi, itulah sebabnya kami tidak mengizinkanmu untuk pergi sendiri. Di luar sana sungguh berbahaya bagi kamu. Papi dan Mami selalu khawatir dengan keadaan kamu."
"Kenapa Titi gak penah bisa dewasa, ya?", keluh Titi sambil menyuapkan makanan ke mulutnya.
"Tentu kamu bisa, Titi. Tapi bukan sekarang. Kamu harus berusaha belajar untuk bersikap mandiri. Tidak sulit, kok.", jawab Utami.
"Bagaimana kalau Astri selalu menjemput Titi pulang sekolah dengan berjalan kaki? Jadi Titi bisa hafal rute jalan pulang ke rumah. Dengan melihat Astri bersikap tegas, Titi juga bisa belajar bersikap berani dan tegas pada orang-orang asing yang membujuknya.", saran Astri.
"Papi setuju sama Astri. Itu bukan ide yang jelek.", jawab Vincent.
"Hmm... bolehlah. Tapi kamu harus jaga dia baik-baik! Jangan sampai hal tadi terulang lagi.", jawab Utami lagi. Titi tersenyum lebar. Matanya berbinar-binar.
"Kamu pasti mau kan, Titi?", tanya Astri sambil mengedipkan sebelah mata. Titi mengangguk-angguk.
Dan mulai sejak itulah Titi berjalan pulang ditemani Aatri. Ia tidak lagi dijemput kedua orangtuanya. Suatu hari Edward mengajak mereka berdua pergi ke taman kota. Titi membeli es krim, sedangkan Edward duduk berdua dengan Astri di bangku taman.
"Ide loe hebat buat ajak Titi pulang bareng. Gue bangga sama loe, Astri.", kata Edward sambil merangkul Astri.
"Jelas donk. Astri gitu loh. Haha.", jawab Astri kemudian. Mereka tertawa bersama.
"Ini es krimnya, Kak.", kata Titi muncul tiba-tiba.
"Oh, terima kasih, Titi.", kata Astri lembut sambil menerima es krim tersebut. Edward juga mengambil es krim bagiannya.
"Kalian berdua mesra sekali.", kata Titi tersenyum.
"Masa sih? Jadi malu aku.", jawab Astri.
"Hehehe.", tawa Edward. Hari itu sungguh terasa indah.
TAMAT
Wednesday, July 6, 2011
Wednesday, June 9, 2010
MASIH BERUNTUNG
Darryl amat terkejut saat memelototi jam di sebelah ranjangnya. Jam 7 tepat. Padahal ia harus datang jam 6.30 untuk menghadiri rapat persiapan pensi di sekolahnya. Ia pun langsung mengganti baju tanpa mandi terlebih dahulu dan mengambil tasnya. Nanti setelah rapat baru ia akan makan di kantin sekolahnya. Karena tidak sempat pamit pada orangtuanya, ia cukup menulis surat yang ditempelkan di pintu kamar mereka. Dengan cepat, ia menyetop taksi yang kebetulan lewat dan menyuruh supirnya ngebut.
Tiba-tiba di tengah jalan, muncul asap keluar dari kap mobil taksi itu. Sang supir langsung menghentikan taksinya dan mengeceknya. Darryl pun merasa panik.
"Pak, bagaimana nih? Aku sudah terlambat!" kata Darryl.
"Tapi kalo ngebut kayak tadi, mesinnya panas, Dek. Kalo meledak gimana? Kamu cari taksi lain aja deh!" jawab pak supir.
Darryl langsung membayari taksi itu dan berlari ke sekolahnya. Beruntung sekolahnya sudah dekat, tapi ia disambut dengan tatapan marah dari teman-temannya.
"Waduh, guys! Sori ya, aku telat bangun!" kata Darryl memelas.
"Tapi ini sudah keterlaluan! Kita baru aja mau pulang! Kita kira kamu emang gak dateng! Sekarang kamu pulang aja, deh!" jawab salah seorang temannya.
"Sori deh! Tapi aku udah capek jalan! Boleh aku numpang mobil kalian?" tanya Darryl.
"Enak aja! No way! That's not our problem, you know!" jawab teman-temannya ketus.
Darryl lalu membeli mie goreng untuk menghilangkan rasa laparnya dan menghabiskannya. Kemudian ia berjalan dengan lemas. Ia melamun menyesali kecerobohannya. Hari ini adalah hari minggu, hari dimana ia tak pernah bangun pagi. Namun rapat ini dilaksanakan pada hari ini. Dan ia lupa memasang weker kemarin malam. Betapa sialnya hari ini.
Saat berjalan, sekilas ia melihat bahwa di belakangnya ada sepeda yang berjalan oleng. Darryl menoleh. Ternyata pemudinya baru belajar mengemudi sepeda dan belum terlalu bisa. Akhirnya sepeda itu jatuh ke dalam got. Darryl amat terkejut ketika melihatnya sehingga ia pun tidak menyadari bahwa kakinya terus melangkah ke depan dan kepalanya tetap menoleh kebelakang. Karena tidak memerhatikan jalan, Darryl terantuk batu besar di depannya. Lututnya pun berdarah, tapi ia tidak peduli karena pikirannya terpusat pada sepeda itu. Darryl lega saat melihat bahwa pengemudinya selamat tanpa tergores sedikitpun. Namun sepedanya terperosok ke dalam got. Darryl langsung menolong pengemudi itu dan mengantarnya pulang ke rumah pengemudi itu.
Kemudian Darryl kembali berjalan pulang. Ia terpaksa berjalan kaki karena tidak punya ongkos pulang. Dalam perjalanannya, ia melihat ada sebuah koin berguling melewatinya. Darryl yang moneyboy langsung berusaha mengejar koin itu hingga ke pelosok kota. Sayang, koin itu langsung ditangkap oleh seorang bocah yang sedang bermain bola. Darryl selain gagal mendapatkan koin itu, kini perjalanan pulangnya juga semakin jauh. Ia pun berjalan lagi. Akhirnya sampailah ia di rumahnya.
Di rumahnya, Darryl bingung karena ada Andre dan Pak Angga, ayah Andre. Andre adalah sahabat baiknya, sedangkan Pak Angga adalah seorang komandan polisi. Pak Angga tersenyum kagum pada Darryl, membuat Darryl tambah heran.
"Darryl, kamu tahu maksud Bapak kesini?" tanya Pak Angga. Darryl menggeleng.
"Kamu adalah anak paling beruntung di dunia ini! Belum pernah Bapak melihat keajaiban sebesar ini! Sungguh luar biasa!" kata Pak Angga.
"Maksud Bapak?" jawab Darryl terheran-heran dengan sikap Pak Angga.
"Ada sekelompok penjahat yang mau menculikmu. Mereka adalah orang-orang suruhan dari saingan papa!" jawab Pak Yadi, ayahnya. Beliau mulai bercerita, "Tadi pagi mereka menunggumu di sekolah karena mereka tahu bahwa kamu akan datang kesana. Tapi mereka tidak memperhitungkan ketelambatanmu sehingga mereka kira kamu tidak datang!".
"Sebelum mereka pergi menjauh, mereka melihatmu datang.", lanjut Pak Angga. "Lalu mereka menunggumu di tengah jalan untuk menangkapmu! Tapi karena kamu malah menolong pengemudi sepeda itu dan mengantarnya pulang, kamu tidak jadi melewati jalan pulang sehingga mereka tidak bisa menangkapmu. Lalu mereka menunggumu di dekat rumah. Tapi karena kamu mengejar koin hingga terlambat pulang, polisi bisa terlebih dulu menangkap mereka!". Darryl kagum mendengarnya.
"Lalu Bapak tau darimana tentang semua ini?" tanya Darryl lagi.
"Papa sudah curiga dengan mereka saat kemarin melihat saingan papa itu sedang menelepon seseorang untuk beraksi di sekolahmu. Karena itu papa minta Pak Angga untuk menyelidiki dan mengikutimu, serta mengirim polisi!" jawab Pak Yadi.
Darryl amat kagum. Ternyata kesialannya hari ini justru menyelamatkan dirinya. Ia tak menyangka Tuhan Maha Adil telah menyelamatkannya. Hal yang luar biasa dalam hidupnya. Sejak saat itu, ia lebih rajin bersyukur dan jarang mengeluh.
TAMAT
Tiba-tiba di tengah jalan, muncul asap keluar dari kap mobil taksi itu. Sang supir langsung menghentikan taksinya dan mengeceknya. Darryl pun merasa panik.
"Pak, bagaimana nih? Aku sudah terlambat!" kata Darryl.
"Tapi kalo ngebut kayak tadi, mesinnya panas, Dek. Kalo meledak gimana? Kamu cari taksi lain aja deh!" jawab pak supir.
Darryl langsung membayari taksi itu dan berlari ke sekolahnya. Beruntung sekolahnya sudah dekat, tapi ia disambut dengan tatapan marah dari teman-temannya.
"Waduh, guys! Sori ya, aku telat bangun!" kata Darryl memelas.
"Tapi ini sudah keterlaluan! Kita baru aja mau pulang! Kita kira kamu emang gak dateng! Sekarang kamu pulang aja, deh!" jawab salah seorang temannya.
"Sori deh! Tapi aku udah capek jalan! Boleh aku numpang mobil kalian?" tanya Darryl.
"Enak aja! No way! That's not our problem, you know!" jawab teman-temannya ketus.
Darryl lalu membeli mie goreng untuk menghilangkan rasa laparnya dan menghabiskannya. Kemudian ia berjalan dengan lemas. Ia melamun menyesali kecerobohannya. Hari ini adalah hari minggu, hari dimana ia tak pernah bangun pagi. Namun rapat ini dilaksanakan pada hari ini. Dan ia lupa memasang weker kemarin malam. Betapa sialnya hari ini.
Saat berjalan, sekilas ia melihat bahwa di belakangnya ada sepeda yang berjalan oleng. Darryl menoleh. Ternyata pemudinya baru belajar mengemudi sepeda dan belum terlalu bisa. Akhirnya sepeda itu jatuh ke dalam got. Darryl amat terkejut ketika melihatnya sehingga ia pun tidak menyadari bahwa kakinya terus melangkah ke depan dan kepalanya tetap menoleh kebelakang. Karena tidak memerhatikan jalan, Darryl terantuk batu besar di depannya. Lututnya pun berdarah, tapi ia tidak peduli karena pikirannya terpusat pada sepeda itu. Darryl lega saat melihat bahwa pengemudinya selamat tanpa tergores sedikitpun. Namun sepedanya terperosok ke dalam got. Darryl langsung menolong pengemudi itu dan mengantarnya pulang ke rumah pengemudi itu.
Kemudian Darryl kembali berjalan pulang. Ia terpaksa berjalan kaki karena tidak punya ongkos pulang. Dalam perjalanannya, ia melihat ada sebuah koin berguling melewatinya. Darryl yang moneyboy langsung berusaha mengejar koin itu hingga ke pelosok kota. Sayang, koin itu langsung ditangkap oleh seorang bocah yang sedang bermain bola. Darryl selain gagal mendapatkan koin itu, kini perjalanan pulangnya juga semakin jauh. Ia pun berjalan lagi. Akhirnya sampailah ia di rumahnya.
Di rumahnya, Darryl bingung karena ada Andre dan Pak Angga, ayah Andre. Andre adalah sahabat baiknya, sedangkan Pak Angga adalah seorang komandan polisi. Pak Angga tersenyum kagum pada Darryl, membuat Darryl tambah heran.
"Darryl, kamu tahu maksud Bapak kesini?" tanya Pak Angga. Darryl menggeleng.
"Kamu adalah anak paling beruntung di dunia ini! Belum pernah Bapak melihat keajaiban sebesar ini! Sungguh luar biasa!" kata Pak Angga.
"Maksud Bapak?" jawab Darryl terheran-heran dengan sikap Pak Angga.
"Ada sekelompok penjahat yang mau menculikmu. Mereka adalah orang-orang suruhan dari saingan papa!" jawab Pak Yadi, ayahnya. Beliau mulai bercerita, "Tadi pagi mereka menunggumu di sekolah karena mereka tahu bahwa kamu akan datang kesana. Tapi mereka tidak memperhitungkan ketelambatanmu sehingga mereka kira kamu tidak datang!".
"Sebelum mereka pergi menjauh, mereka melihatmu datang.", lanjut Pak Angga. "Lalu mereka menunggumu di tengah jalan untuk menangkapmu! Tapi karena kamu malah menolong pengemudi sepeda itu dan mengantarnya pulang, kamu tidak jadi melewati jalan pulang sehingga mereka tidak bisa menangkapmu. Lalu mereka menunggumu di dekat rumah. Tapi karena kamu mengejar koin hingga terlambat pulang, polisi bisa terlebih dulu menangkap mereka!". Darryl kagum mendengarnya.
"Lalu Bapak tau darimana tentang semua ini?" tanya Darryl lagi.
"Papa sudah curiga dengan mereka saat kemarin melihat saingan papa itu sedang menelepon seseorang untuk beraksi di sekolahmu. Karena itu papa minta Pak Angga untuk menyelidiki dan mengikutimu, serta mengirim polisi!" jawab Pak Yadi.
Darryl amat kagum. Ternyata kesialannya hari ini justru menyelamatkan dirinya. Ia tak menyangka Tuhan Maha Adil telah menyelamatkannya. Hal yang luar biasa dalam hidupnya. Sejak saat itu, ia lebih rajin bersyukur dan jarang mengeluh.
TAMAT
Sunday, May 24, 2009
BAKAT BARU JAMES
Suatu hari, Sofi mengunjungi rumah temannya sekolahnya, James. James langsung menyambutnya dan mereka pun mulai mengobrol.
James: Fi, tau gak? Kemaren aku gangguin Tamara sampai dia marah. Kupanggil anak tonggos itu 'pembersih jalan' dan hasilnya dia langsung sambit aku pake sepatunya.
Sofi: Haha! Terus? Kamu apain dia?
James: Ya, enggak kuapa-apain lah! Dia itu kan cewek paling kuat sedunia! Coba kalo aku punya kekuatannya dia, dia sudah lenyap kuhajar!
Sofi: Ah! Imajinasimu makin berkembang saja! Jadiin novel aja!
James: Maksudmu? Aku harus bikin cerita tentang si pendek itu sesuai khayalanku?
Sofi: Yap! Dan bukan itu saja! Coba deh, kamu buat cerpen yang menurutmu bagus, terus kasih liat ke aku! Siapa tau kamu berbakat!
James: Boleh juga! Aku mau coba! Besok kukasih liat kamu deh!
James lalu membuat sebuah cerpen semalaman penuh dan esok paginya, ia pun meminta komentar pada sahabat lamanya, Dick yang kebetulan lewat.
Dick: (Setelah membaca) Cerita apa nih, James? Kok ada anak jorok dan bau yang selalu dijauhi semua temannya? Kasian, dia! Buang tokoh itu dan ceritamu akan sempurna!
James lalu pergi ke apartemen Sofi dan bertemu dengan Indah, penghuni kamar sebelah kamar Sofi.
Indah: Hai, James! Mau cari Sofi? Dia lagi pergi!
James: Yaah! Dia pergi, tapi kamu mau kan, komentari cerpen baruku ini?
Indah: Mau! (setelah membaca) Ya ampun! Di awal ceritanya aja udah jelek. Masa Tasya udah minjem boneka Cinta yang sudah dirusakinya tanpa maaf, nuntut dijamu makanan sebagai tamu, dan bawa kucing yang akhirnya ngambil bonekanya Cinta lagi. Tasya anak gak sopan!
James: Jadi kamu gak suka ceritanya?
Indah: Sama sekali tidak suka! Aku benci anak gak sopan kayak Tasya di ceritamu!
James pun berjalan pulang dan bertemu Tamara di dekat rumahnya. James tidak yakin Tamara menyukai ceritanya, tapi ia butuh pendapat untuk cerpen barunya. Dan ia pun memberi cerpennya pada "si Tonggos" itu.
Tamara: (setelah membaca) Ahem! Aku gak suka tokoh Cinta! Dia itu terlalu baik! Demi menjaga persahabatan saja, ia rela kehilangan bonekanya yang diambil kucingnya Tasya. Kalo aku mah, sudah kupukuli si Tasya, Cinta malah diam aja! Ceritamu jelek!
James pun kesal. Ia juga mencoba pada kawan-kawannya yang lain. Dan hasilnya...
Camile: Kamu ini aneh, James. Yang jelas donk ceritanya. Udah aneh pake malaikat segala, dan saat malaikat itu menolong kucing Tasya, yang disoraki malah si anak bau!
Agung: Aku kasian sama si pemain bola ini. Masih kecil tapi sok dewasa dan nekad manjat pohon buat nyelametin kucing itu sampe dia luka parah! Ganti donk tokohnya!
Frankie: James, kalo mau membuat tokoh penemu cilik, seharusnya penemuannya berhasil, bukannya gagal. Kasian si Samin ini. Gak pernah berhasil jadi penemu.
James pun lelah mendapat kritikan dari semua temannya itu. Ia berniat pulang dan ia bertemu Sofi.
Sofi: Hai, James! Liat donk cerpenmu itu!
James: Percuma! Aku emang gak bisa ngarang. Teman-teman banyak yang gak suka!
Sofi: Tapi aku mau liat dulu! (merebut cerpen itu dari tangan James)
James: Baca aja, terus bilang ke aku tokoh yang kamu gak suka!
Sofi: Aku udah selesai baca kok! Hasilnya gak jelek-jelek amat! Emank apa sih yang gak disukai tman-teman?
James: Banyak! Frankie gak suka Samin. Dick Benci anak bau itu. Indah benci Tasya, dan Tamara benci Cinta yang terlalu baik itu.
Sofi: Kita datangi mereka, yuk!
Mereka pun mendatangi teman-teman mereka. Sofi lalu bertanya pada mereka.
Sofi: Emangnya apa alasan kalian kurang suka cerita James? Cuma karena ada satu tokoh yang kalian gak suka?
Indah: Bukan menjelekkan cerita James, maksudku. Tapi masa ada cewek gak sopan kayak Tasya di cerita itu? Itu menjadi contoh gak baik bagi pembacanya.
Camile: Trus, ceritanya gak jelas lagi. Masa yang tolongin kucing Tasya itu malaikat? Dan yang dapet pujian atas penyelamatan itu malah anak bau?
Frankie: Dan kenapa ada penemu cilik yang penemunya gak pernah berhasil? Aneh!
Sofi: Dan kamu Tamara? Apa alasan kamu gak suka tokoh Cinta? Atau kamu cuma masih marah sama James karena dia ngejek kamu?
Tamara: Tidak! Aku bukan pendendam. Aku cuma komentari sesuai pendapatku. Memang Cinta terlalu bersahabat dan mau aja bonekanya dirusak Tasya. Malah Tasya dijamu sirup lagi.
Sofi: Ohh, jadi dalam arti kalian semua gak suka cerita James cuma karena ada tokoh yang kalian gak suka?
Agung: Bisa dibilang begitu. Aku paling kasian sama si pemain bola kecil itu.
Frankie: Tapi sepertinya Sofi benar. Kita gak suka cerita itu cuma karena ada tokoh yang kita benci. Berarti kita salah menilai cerita itu donk.
Indah: Kayaknya memang kita salah menilai. Mungkin memang Tasya sengaja dibuat gak sopan biar ceritanya menarik dan nyambung. Gitu kali ya.
Dick: Yah! Sekarang aku juga ngerti kenapa anak bau itu dibuat dibenci temennya semua. Biar akhirnya dia disukai banyak orang. James, cerita pertamamu ini ternyata menarik juga.
Dan sejak saat itu, James membuat banyak cerita yang dikirimkannya ke majalah ternama dan selalu diterima. Dan diantara teman-temannya semua, ia paling berbakat. Dan tentu saja ia masih hobi mengejek Tamara agar khayalannya semakin menjadi-jadi.
TAMAT
James: Fi, tau gak? Kemaren aku gangguin Tamara sampai dia marah. Kupanggil anak tonggos itu 'pembersih jalan' dan hasilnya dia langsung sambit aku pake sepatunya.
Sofi: Haha! Terus? Kamu apain dia?
James: Ya, enggak kuapa-apain lah! Dia itu kan cewek paling kuat sedunia! Coba kalo aku punya kekuatannya dia, dia sudah lenyap kuhajar!
Sofi: Ah! Imajinasimu makin berkembang saja! Jadiin novel aja!
James: Maksudmu? Aku harus bikin cerita tentang si pendek itu sesuai khayalanku?
Sofi: Yap! Dan bukan itu saja! Coba deh, kamu buat cerpen yang menurutmu bagus, terus kasih liat ke aku! Siapa tau kamu berbakat!
James: Boleh juga! Aku mau coba! Besok kukasih liat kamu deh!
James lalu membuat sebuah cerpen semalaman penuh dan esok paginya, ia pun meminta komentar pada sahabat lamanya, Dick yang kebetulan lewat.
Dick: (Setelah membaca) Cerita apa nih, James? Kok ada anak jorok dan bau yang selalu dijauhi semua temannya? Kasian, dia! Buang tokoh itu dan ceritamu akan sempurna!
James lalu pergi ke apartemen Sofi dan bertemu dengan Indah, penghuni kamar sebelah kamar Sofi.
Indah: Hai, James! Mau cari Sofi? Dia lagi pergi!
James: Yaah! Dia pergi, tapi kamu mau kan, komentari cerpen baruku ini?
Indah: Mau! (setelah membaca) Ya ampun! Di awal ceritanya aja udah jelek. Masa Tasya udah minjem boneka Cinta yang sudah dirusakinya tanpa maaf, nuntut dijamu makanan sebagai tamu, dan bawa kucing yang akhirnya ngambil bonekanya Cinta lagi. Tasya anak gak sopan!
James: Jadi kamu gak suka ceritanya?
Indah: Sama sekali tidak suka! Aku benci anak gak sopan kayak Tasya di ceritamu!
James pun berjalan pulang dan bertemu Tamara di dekat rumahnya. James tidak yakin Tamara menyukai ceritanya, tapi ia butuh pendapat untuk cerpen barunya. Dan ia pun memberi cerpennya pada "si Tonggos" itu.
Tamara: (setelah membaca) Ahem! Aku gak suka tokoh Cinta! Dia itu terlalu baik! Demi menjaga persahabatan saja, ia rela kehilangan bonekanya yang diambil kucingnya Tasya. Kalo aku mah, sudah kupukuli si Tasya, Cinta malah diam aja! Ceritamu jelek!
James pun kesal. Ia juga mencoba pada kawan-kawannya yang lain. Dan hasilnya...
Camile: Kamu ini aneh, James. Yang jelas donk ceritanya. Udah aneh pake malaikat segala, dan saat malaikat itu menolong kucing Tasya, yang disoraki malah si anak bau!
Agung: Aku kasian sama si pemain bola ini. Masih kecil tapi sok dewasa dan nekad manjat pohon buat nyelametin kucing itu sampe dia luka parah! Ganti donk tokohnya!
Frankie: James, kalo mau membuat tokoh penemu cilik, seharusnya penemuannya berhasil, bukannya gagal. Kasian si Samin ini. Gak pernah berhasil jadi penemu.
James pun lelah mendapat kritikan dari semua temannya itu. Ia berniat pulang dan ia bertemu Sofi.
Sofi: Hai, James! Liat donk cerpenmu itu!
James: Percuma! Aku emang gak bisa ngarang. Teman-teman banyak yang gak suka!
Sofi: Tapi aku mau liat dulu! (merebut cerpen itu dari tangan James)
James: Baca aja, terus bilang ke aku tokoh yang kamu gak suka!
Sofi: Aku udah selesai baca kok! Hasilnya gak jelek-jelek amat! Emank apa sih yang gak disukai tman-teman?
James: Banyak! Frankie gak suka Samin. Dick Benci anak bau itu. Indah benci Tasya, dan Tamara benci Cinta yang terlalu baik itu.
Sofi: Kita datangi mereka, yuk!
Mereka pun mendatangi teman-teman mereka. Sofi lalu bertanya pada mereka.
Sofi: Emangnya apa alasan kalian kurang suka cerita James? Cuma karena ada satu tokoh yang kalian gak suka?
Indah: Bukan menjelekkan cerita James, maksudku. Tapi masa ada cewek gak sopan kayak Tasya di cerita itu? Itu menjadi contoh gak baik bagi pembacanya.
Camile: Trus, ceritanya gak jelas lagi. Masa yang tolongin kucing Tasya itu malaikat? Dan yang dapet pujian atas penyelamatan itu malah anak bau?
Frankie: Dan kenapa ada penemu cilik yang penemunya gak pernah berhasil? Aneh!
Sofi: Dan kamu Tamara? Apa alasan kamu gak suka tokoh Cinta? Atau kamu cuma masih marah sama James karena dia ngejek kamu?
Tamara: Tidak! Aku bukan pendendam. Aku cuma komentari sesuai pendapatku. Memang Cinta terlalu bersahabat dan mau aja bonekanya dirusak Tasya. Malah Tasya dijamu sirup lagi.
Sofi: Ohh, jadi dalam arti kalian semua gak suka cerita James cuma karena ada tokoh yang kalian gak suka?
Agung: Bisa dibilang begitu. Aku paling kasian sama si pemain bola kecil itu.
Frankie: Tapi sepertinya Sofi benar. Kita gak suka cerita itu cuma karena ada tokoh yang kita benci. Berarti kita salah menilai cerita itu donk.
Indah: Kayaknya memang kita salah menilai. Mungkin memang Tasya sengaja dibuat gak sopan biar ceritanya menarik dan nyambung. Gitu kali ya.
Dick: Yah! Sekarang aku juga ngerti kenapa anak bau itu dibuat dibenci temennya semua. Biar akhirnya dia disukai banyak orang. James, cerita pertamamu ini ternyata menarik juga.
Dan sejak saat itu, James membuat banyak cerita yang dikirimkannya ke majalah ternama dan selalu diterima. Dan diantara teman-temannya semua, ia paling berbakat. Dan tentu saja ia masih hobi mengejek Tamara agar khayalannya semakin menjadi-jadi.
TAMAT
SAUDARA MENYEBALKAN
Hari sedang cerah, Dina bersiap menaiki sepedanya. Hari ini ia akan ke taman, menemui sahabatnya, Dhea. Tiba-tiba, datanglah adik kembar Dina yang hobi mengejek Dina yang gembul.
Monica: kakak mau pergi ke mana? Hati-hati sepedanya roboh!
Mina: Sebelum pergi, ganti baju dulu donk! Masa udah gemuk, pake gaun sempit!
Mutiara: Kalo gak nurut sama kita, entar jadi pusat perhatian lho! Hihihi!
Dina sebal pada ketiga adiknya itu. Dina ingin sekali menghajar mereka, tapi karena mereka masih berusia 7 tahun, Dina pasti dimarahi orangtuanya bila mereka menangis. Dina mencuekan mereka dan menaiki sepedanya menuju ke taman, tempat Dhea menunggu. Dina pun disambut baik oleh sahabatnya itu. Mereka sudah bersahabat hampir setahun, meski beda sekolah.
Dhea: Dina, Kok mukamu cemberut? Ulanganmu jelek, ya?
Dina: Sok tau kamu! Aku tuh kesal diledek terus sama trio rese!
Dhea: Adik kembarmu, ya? Sudahlah, lama-lama mereka juga jera ganggu kamu!
Dina: Aku memang harus tunggu setahun agar bebas dari ledekan mereka. Kesal aku!
Mendengar hal itu, Dhea pun terlihat sedih. lalu ia pun mulai bercerita.
Dhea: Tau ga, kamu? Sebenarnya saudaraku lebih banyak dari saudaramu?
Dina: Aku tau! Saudara tirimu, kan? Cuma Kak Dito yang jadi kakak kandungmu!
Dhea: Benar! Orangtuaku sudah bercerai 3 tahun lalu dan mereka kawin lagi dengan orang lain!
Dina: Terus rumahmu bagaimana?
Dhea: Rumahku diambil alih ayah kandungku, papa Davi, bersama keluarga barunya, tante Carrie, Jimmy, Anastasya, dan kak Jerry. lalu ibu kandungku, mama Riri pindah ke rumah Om Ronny, dan si kembar Kim dan Angela.
Dina: Lalu kamu tinggal dimana? Kak Dito juga dimana?
Dhea: (mulai jatuh air matanya) Kak Dito sudah tinggal di Singapura untuk kuliah, dan gak akan kembali lagi! Aku yang harus pindah rumah sebulan sekali! Dan tidak ada keluarga yang paling enak diantara mereka! Di tempat papa Davi, ada Jimmy yang sok ngebos dan main perintah seenaknya! Untungnya Anastasya baik dan mau membela aku dari perintah Jimmy. Dan kak Jerry terlalu sibuk sama urusannya sendiri sampe tidak ada waktu untuk main!
Dina: Dan di tempat ibumu? Gimana kehidupan disana?
Dhea: Mereka saudara angkatku, tapi bukan anak tiri mama Riri. Orangtuaku bercerai karena Om Ronny, si item itu menghamili mama Riri dan melahirkan mereka! Angela sih, lumayan baik, tapi masih suka ngompol di ranjangku! Dan Kim yang paling menyebalkan karena dia hiperaktif dan suka melompat di punggungku tiap pagi bangun tidur! Andai bisa kususul Kak Dito, tapi itu tidak mungkin! Jadi aku harus tinggal bersama mereka! Untunglah kini aku mulai terbiasa!
Dina tercengang mendengar kisah temannya itu dan menyesal. Selama ini ia masih mempunyai keluarga yang utuh dan ia sangat kesal pada ketiga adik kembarnya itu, padahal temannya saja dapat pasrah hidup dengan saudara-saudari tirinya. Dan mulai sejak itu, Dina akan menyayangi saudaranya itu meski sering diejek gendut.
TAMAT
Monica: kakak mau pergi ke mana? Hati-hati sepedanya roboh!
Mina: Sebelum pergi, ganti baju dulu donk! Masa udah gemuk, pake gaun sempit!
Mutiara: Kalo gak nurut sama kita, entar jadi pusat perhatian lho! Hihihi!
Dina sebal pada ketiga adiknya itu. Dina ingin sekali menghajar mereka, tapi karena mereka masih berusia 7 tahun, Dina pasti dimarahi orangtuanya bila mereka menangis. Dina mencuekan mereka dan menaiki sepedanya menuju ke taman, tempat Dhea menunggu. Dina pun disambut baik oleh sahabatnya itu. Mereka sudah bersahabat hampir setahun, meski beda sekolah.
Dhea: Dina, Kok mukamu cemberut? Ulanganmu jelek, ya?
Dina: Sok tau kamu! Aku tuh kesal diledek terus sama trio rese!
Dhea: Adik kembarmu, ya? Sudahlah, lama-lama mereka juga jera ganggu kamu!
Dina: Aku memang harus tunggu setahun agar bebas dari ledekan mereka. Kesal aku!
Mendengar hal itu, Dhea pun terlihat sedih. lalu ia pun mulai bercerita.
Dhea: Tau ga, kamu? Sebenarnya saudaraku lebih banyak dari saudaramu?
Dina: Aku tau! Saudara tirimu, kan? Cuma Kak Dito yang jadi kakak kandungmu!
Dhea: Benar! Orangtuaku sudah bercerai 3 tahun lalu dan mereka kawin lagi dengan orang lain!
Dina: Terus rumahmu bagaimana?
Dhea: Rumahku diambil alih ayah kandungku, papa Davi, bersama keluarga barunya, tante Carrie, Jimmy, Anastasya, dan kak Jerry. lalu ibu kandungku, mama Riri pindah ke rumah Om Ronny, dan si kembar Kim dan Angela.
Dina: Lalu kamu tinggal dimana? Kak Dito juga dimana?
Dhea: (mulai jatuh air matanya) Kak Dito sudah tinggal di Singapura untuk kuliah, dan gak akan kembali lagi! Aku yang harus pindah rumah sebulan sekali! Dan tidak ada keluarga yang paling enak diantara mereka! Di tempat papa Davi, ada Jimmy yang sok ngebos dan main perintah seenaknya! Untungnya Anastasya baik dan mau membela aku dari perintah Jimmy. Dan kak Jerry terlalu sibuk sama urusannya sendiri sampe tidak ada waktu untuk main!
Dina: Dan di tempat ibumu? Gimana kehidupan disana?
Dhea: Mereka saudara angkatku, tapi bukan anak tiri mama Riri. Orangtuaku bercerai karena Om Ronny, si item itu menghamili mama Riri dan melahirkan mereka! Angela sih, lumayan baik, tapi masih suka ngompol di ranjangku! Dan Kim yang paling menyebalkan karena dia hiperaktif dan suka melompat di punggungku tiap pagi bangun tidur! Andai bisa kususul Kak Dito, tapi itu tidak mungkin! Jadi aku harus tinggal bersama mereka! Untunglah kini aku mulai terbiasa!
Dina tercengang mendengar kisah temannya itu dan menyesal. Selama ini ia masih mempunyai keluarga yang utuh dan ia sangat kesal pada ketiga adik kembarnya itu, padahal temannya saja dapat pasrah hidup dengan saudara-saudari tirinya. Dan mulai sejak itu, Dina akan menyayangi saudaranya itu meski sering diejek gendut.
TAMAT
Thursday, May 7, 2009
SUSAHNYA MENGARANG CERITA
Siang ini, Jenny pulang sekolah dan tanpa mengucapkan salam pada mamanya, ia langsung masuk kamarnya, lalu membanting tasnya dengan kesal. Mamanya yang melihat itu, langsung menghampiri anaknya .
“Ada kenapa, sayang? Kok tumben hari ini kesal banget?” Tanya mamanya sambil mengelus kepala anaknya.
“Itu, ma! Bu guru daftarin Jenny ke lomba mengarang tingkat sekolah. Jenny harus bersaing membuat cerita sama murid dari sekolah lain!” jawab Jenny kesal.
‘Loh, terus kenapa? Kan kamu suka membuat cerita!” Tanya mamanya lagi.
“Tapi ini kan, lomba! Kalo Jenny kalah, Jenny kan malu, ma! Bu guru main daftarin Jenny tanpa bilang-bilang dulu lagi!” jawab Jenny.
“Ah, kamu pasti menang! Karya kamu kan, sering dijadikan mading sekolah!”
“Pokoknya Jenny tetap gak setuju!”
Akhirnya, mamanya lelah merayu Jenny karena Jenny tetap keras kepala untuk mencari ide cerita yang sempurna buat lomba itu.
Besoknya di sekolah, Jenny langsung dihampiri teman-temannya.
“Hebat kamu, Jen! Dengar-dengar kamu terpilih ikut lomba mengarang tingkat SD!” kata Yani sambil menyalami Jenny.
“ Iya, kamu memang jagoan kita! Hidup penulis!” sambung Tasya.
“ Ah, kalian semua berlebihan! Aku kan belum tentu menang!” balas Jenny .
“Tentu saja kamu pasti menang! Aku berani taruhan kalau kamu seratus persen menang!” balas Ayu.
“Kalau begitu, tolong Bantu aku cari inspirasi buat cerita lomba!” pinta Jenny.
“Beresss!” kata teman-temannya serempak.
Pas istirahat pertama,
“Waktu lomba tinggal dua hari lagi! Dan aku masih belum dapat ide! Kamu yakin aku pasti menang lomba, Yu?” Tanya Jenny pada Ayu di kantin.
“Pasti donk kamu menang! Percaya diri donk! Lagian kamu masih punya banyak waktu buat cari ide! Bagi anak sepintar kamu, pasti waktunya lebih dari cukup! Kamu tinggal bersikap PD aja!” jawab Ayu sambil memasukkan bakso ikan ke mulutnya.
“Ya ya ya! Sekarang kamu bantuin cari ide! Aku mulai PD nih, kalau kamu mau Bantu aku cari inspirasi!” pinta Jenny.
“ Mmm… Bagaimana kalau kamu tulis tentang…orang gendut, atau fable (dongeng hewan), atau pergaulan remaja?” jawab Anis yang juga ada disitu.
“ Oke deh! Nanti aku pikirin ide itu!” jawab Jenny.
Malam harinya, Jenny dan Ayu menginap di rumah Yani. Disana Jenny mencoba latihan menulis beberapa cerita. Tetapi semuanya langsung dibuang. Jenny menginginkan cerita yang sangat sempurna. Hingga akhirnya ia patah semangat.
“ Aku gak akan bisa menang lomba! Karyaku semuanya kurang bagus! Aku memang hanya jago mengarang di dunia sekolah kita saja, tidak sekolah lainnya!” kata Jenny putus asa.
“Tidah begitu, Jen! Lihat, yang ini saja sudah bagus!” kata Ayu sambil menunjukan salah satu kertas berisi cerira karya Jenny.
“Itu terlalu biasa! Aku yakin masih bisa lebih bagus lagi, bahkan sempurna! Dan aku akan mencoba sampai berhasil!” jawab Jenny membulatkan tekadnya.
“ Itu baru semangat! Kita semua akan dukung kamu, Jen! JENNY! JENNY! GO GO JENNY!” kata Ayu dan Yani serempak.
Besoknya, Jenny masih belum menemukan ide yang diinginkannya. Di kelas pada jam pulang , ia masih saja menulis yang hasilnya selalu masuk tempat sampah, atau dirobek-robek olehnya.
“Astagaaaa!!! Lomba tinggal besok dan aku masih belum dapat ide! Sepertinya inspirasiku kosong sama sekali!” teriak Jenny setelah lelah mencari ide cerita.
“Tidak, Jen! Mungkin kamu hanya perlu hiburan! Kamu dari kemarin sibuk mencari ide! Lebih baik berhenti mencari ide dan ikut kami aja!” Ajak Anis dan Tasya.
Jenny akhirnya menurut. Di ruang AudioVisual, Ada Yani dan Ayu sedang menonton film kartun anak. Jenny sampai bingung tujuannya ia dibawa kesini.
“ih, kalian itu kan udah gede! Masa nonton ginian! Ngajak aku segala lagi!” protes Jenny.
“Justru itu kamu dibawa kesini! Lebih baik kamu nonton film ini. Untuk mendapat ide yang luar biasa, kamu harus mulai dengan yang dasar, lalu imajinasimu akan berkembang menjadi luar biasa!” balas Yani bijak.
“Iya ya! Kalian semua benar! Dengan ini, aku bisa mendapat ide segar! Mari kita nonton film ini!” ajak Jenny mulai bersemangat.
Dan hari yang ditunggu-tunggu pun tiba. Banyak murid dari sekolah lain mengikuti lomba ini. Jenny yang semula tidak suka lomba ini, kini menjadi lebih percaya diri. Lomba pun dimulai. Semua peserta tampak sibuk. Setelah waktu habis, semua peserta mengumpulkan ceritanya masing-masing. Jenny lalu menemui teman-temannya.
;”Gimana, Jen? Gugup enggak?” Tanya teman-temannya.
“ Gugup juga! Tapi aku pasti menang kan? Tenangng aja!” balas Jenny
“Ooh! Jenny pasti menang donk! Jagoan kita di sekolah!” kata teman-temannya lagi.
Besoknya, pemenangnya diumumkan. Dan benar saja. Jenny menjadi pemenang juara 1 penulis cilik terbaik. Kini, Jenny tidak lagi tertutup dalam lomba mengarang apapun. Ia sekarang sudah banyak mengikuti lomba mengarang sampai tingkat nasional. Dan tentu saja dengan uang kemenangannya Jenny selalu mentraktir teman-temannya.
TAMAT
“Ada kenapa, sayang? Kok tumben hari ini kesal banget?” Tanya mamanya sambil mengelus kepala anaknya.
“Itu, ma! Bu guru daftarin Jenny ke lomba mengarang tingkat sekolah. Jenny harus bersaing membuat cerita sama murid dari sekolah lain!” jawab Jenny kesal.
‘Loh, terus kenapa? Kan kamu suka membuat cerita!” Tanya mamanya lagi.
“Tapi ini kan, lomba! Kalo Jenny kalah, Jenny kan malu, ma! Bu guru main daftarin Jenny tanpa bilang-bilang dulu lagi!” jawab Jenny.
“Ah, kamu pasti menang! Karya kamu kan, sering dijadikan mading sekolah!”
“Pokoknya Jenny tetap gak setuju!”
Akhirnya, mamanya lelah merayu Jenny karena Jenny tetap keras kepala untuk mencari ide cerita yang sempurna buat lomba itu.
Besoknya di sekolah, Jenny langsung dihampiri teman-temannya.
“Hebat kamu, Jen! Dengar-dengar kamu terpilih ikut lomba mengarang tingkat SD!” kata Yani sambil menyalami Jenny.
“ Iya, kamu memang jagoan kita! Hidup penulis!” sambung Tasya.
“ Ah, kalian semua berlebihan! Aku kan belum tentu menang!” balas Jenny .
“Tentu saja kamu pasti menang! Aku berani taruhan kalau kamu seratus persen menang!” balas Ayu.
“Kalau begitu, tolong Bantu aku cari inspirasi buat cerita lomba!” pinta Jenny.
“Beresss!” kata teman-temannya serempak.
Pas istirahat pertama,
“Waktu lomba tinggal dua hari lagi! Dan aku masih belum dapat ide! Kamu yakin aku pasti menang lomba, Yu?” Tanya Jenny pada Ayu di kantin.
“Pasti donk kamu menang! Percaya diri donk! Lagian kamu masih punya banyak waktu buat cari ide! Bagi anak sepintar kamu, pasti waktunya lebih dari cukup! Kamu tinggal bersikap PD aja!” jawab Ayu sambil memasukkan bakso ikan ke mulutnya.
“Ya ya ya! Sekarang kamu bantuin cari ide! Aku mulai PD nih, kalau kamu mau Bantu aku cari inspirasi!” pinta Jenny.
“ Mmm… Bagaimana kalau kamu tulis tentang…orang gendut, atau fable (dongeng hewan), atau pergaulan remaja?” jawab Anis yang juga ada disitu.
“ Oke deh! Nanti aku pikirin ide itu!” jawab Jenny.
Malam harinya, Jenny dan Ayu menginap di rumah Yani. Disana Jenny mencoba latihan menulis beberapa cerita. Tetapi semuanya langsung dibuang. Jenny menginginkan cerita yang sangat sempurna. Hingga akhirnya ia patah semangat.
“ Aku gak akan bisa menang lomba! Karyaku semuanya kurang bagus! Aku memang hanya jago mengarang di dunia sekolah kita saja, tidak sekolah lainnya!” kata Jenny putus asa.
“Tidah begitu, Jen! Lihat, yang ini saja sudah bagus!” kata Ayu sambil menunjukan salah satu kertas berisi cerira karya Jenny.
“Itu terlalu biasa! Aku yakin masih bisa lebih bagus lagi, bahkan sempurna! Dan aku akan mencoba sampai berhasil!” jawab Jenny membulatkan tekadnya.
“ Itu baru semangat! Kita semua akan dukung kamu, Jen! JENNY! JENNY! GO GO JENNY!” kata Ayu dan Yani serempak.
Besoknya, Jenny masih belum menemukan ide yang diinginkannya. Di kelas pada jam pulang , ia masih saja menulis yang hasilnya selalu masuk tempat sampah, atau dirobek-robek olehnya.
“Astagaaaa!!! Lomba tinggal besok dan aku masih belum dapat ide! Sepertinya inspirasiku kosong sama sekali!” teriak Jenny setelah lelah mencari ide cerita.
“Tidak, Jen! Mungkin kamu hanya perlu hiburan! Kamu dari kemarin sibuk mencari ide! Lebih baik berhenti mencari ide dan ikut kami aja!” Ajak Anis dan Tasya.
Jenny akhirnya menurut. Di ruang AudioVisual, Ada Yani dan Ayu sedang menonton film kartun anak. Jenny sampai bingung tujuannya ia dibawa kesini.
“ih, kalian itu kan udah gede! Masa nonton ginian! Ngajak aku segala lagi!” protes Jenny.
“Justru itu kamu dibawa kesini! Lebih baik kamu nonton film ini. Untuk mendapat ide yang luar biasa, kamu harus mulai dengan yang dasar, lalu imajinasimu akan berkembang menjadi luar biasa!” balas Yani bijak.
“Iya ya! Kalian semua benar! Dengan ini, aku bisa mendapat ide segar! Mari kita nonton film ini!” ajak Jenny mulai bersemangat.
Dan hari yang ditunggu-tunggu pun tiba. Banyak murid dari sekolah lain mengikuti lomba ini. Jenny yang semula tidak suka lomba ini, kini menjadi lebih percaya diri. Lomba pun dimulai. Semua peserta tampak sibuk. Setelah waktu habis, semua peserta mengumpulkan ceritanya masing-masing. Jenny lalu menemui teman-temannya.
;”Gimana, Jen? Gugup enggak?” Tanya teman-temannya.
“ Gugup juga! Tapi aku pasti menang kan? Tenangng aja!” balas Jenny
“Ooh! Jenny pasti menang donk! Jagoan kita di sekolah!” kata teman-temannya lagi.
Besoknya, pemenangnya diumumkan. Dan benar saja. Jenny menjadi pemenang juara 1 penulis cilik terbaik. Kini, Jenny tidak lagi tertutup dalam lomba mengarang apapun. Ia sekarang sudah banyak mengikuti lomba mengarang sampai tingkat nasional. Dan tentu saja dengan uang kemenangannya Jenny selalu mentraktir teman-temannya.
TAMAT
Monday, April 27, 2009
A DIARY OF SATPAM
Hai, namaku Mas William. Aku seorang satpam kompleks yang paling dipercaya orang-orang sekitar. Bahkan aku sampai mengenal orang-orang di lingkungan ini. Dan inilah pengalamanku bekerja selama 3 hari:
Hari ke-1= Seorang ibu tua berbaju merah tengah bersedih pagi ini karena bunga kesayangannya hancur tergeletak di tanah. Ia pun menyerahkan tugas ini padaku. Langkah pertama, aku bak seorang detektif segera menginterogasi beberapa warga sini. Inilah jawaban orang-orangnya ketika kuintrogasi:
-Bapak berjas hijau: Bukan aku yang hancurin bunga itu. Sungguh. Aku tadi pagi masih tidur. Kalo gak percaya, tanya aja anakku, Dick.
-Bocah ganteng( namanya Dick): Yang jelas aku gak pernah buat ibu itu marah. Ibu itu tuh, yang sering buat aku kesel karena aku gak pernah boleh main di deket rumah dia. Soal bapak mah, emang dia lagi tidur tadi pagi. Kalo aku lagi main bola sama temen aku , James.
-Bocah gundul bernama James: Tadi pagi kan, aku ke liburan ke Bandung sama Dick. Kebetulan dia punya vila disana.
Dan sebagai satpam terpercaya sekaligus calon detektif, aku pun langsung menduga bahwa pelakunya adalah James dan Dick bila dilihat dari alasan mereka. Ibu itu pun memberiku uang senilai goban.
Hari ke-2= Ada sopir taksi melapor bahwa ada 4 orang anak minta diantar dari Taman Lawang ke sini dan langsung kabur tanpa membayar. Aku pun menanyai sopir itu. "Gimana rupa dari anak-anak itu, Bang?" tanya aku. Dan dia menjawab, "Aku gak bisa inget banyak! Kalo gak salah sih, yang 1 gundul, yang 1 lagi bawa payung, trus juga ada yang pake sepatu pantofel. Semuanya laki-laki, kecuali yang satu lagi, perempuan bertopi! Bisa dipahami gak, Mas?". Aku pun membalas,"Oh, tenang aja! Serahkan smuanya padaku!".
Memang sebenarnya aku sudah kenal dengan anak-anak itu. Mereka anak-anak nakal di kompleks ini. Kalo gak salah sih, namanya Dick, James, Rina, dan Agung. Aku pun segera menangkap mereka dan kuserahkan pada sopir taksi itu. Setelah sopir itu memberiku uang senilai cepeceng, aku lalu meninggalkan keempat anak itu diurus oleh sopir itu. Aku melihat sekilas sepertinya mereka disuruh mengelap taksi itu. Kubiarkan saja karena mereka memang pantas digitukan.
Hari ke-3= Dompetku hilang. Hey, aku serius! DOMPETKU HILANG ENTAH KEMANA! Karena aku merasa anak-anak nakal tadi (tau kan?) yang selalu terlibat dalam kejadian dua hari kemaren, aku pun menyalahkan mereka mencuri dompetku untuk balas dendam. Ketika bertemu mereka, aku segera menangkap mereka dan memaksa mereka mengaku dimana dompetku diumpetin. Tapi mereka tidak mengaku juga. Dasar anak-anak nakal yang keras kepala. Saking marahnya aku sampai hampir menghukum mereka. Beruntung ketika aku sudah mau menghukum mereka ,ada anak tonggos (kakaknya Rina) datang membawa dompet aku. Katanya dompet itu dititipin di dia waktu tadi pagi aku berangkat ke pasar sebentar buat beli sayur. Ooh, malunya aku. Apalagi waktu anak-anak nakal tadi mencemooh aku gara-gara salah paham dan menyalahkan mereka.
Pesan dari aku: Buat kalian yang membaca pengalamanku ini, Harap jangan jadi pelupa dan jangan menyalahin orang lain yang kamu sebel. Oke? terima kasih karena udah mau baca ini.
TAMAT
Hari ke-1= Seorang ibu tua berbaju merah tengah bersedih pagi ini karena bunga kesayangannya hancur tergeletak di tanah. Ia pun menyerahkan tugas ini padaku. Langkah pertama, aku bak seorang detektif segera menginterogasi beberapa warga sini. Inilah jawaban orang-orangnya ketika kuintrogasi:
-Bapak berjas hijau: Bukan aku yang hancurin bunga itu. Sungguh. Aku tadi pagi masih tidur. Kalo gak percaya, tanya aja anakku, Dick.
-Bocah ganteng( namanya Dick): Yang jelas aku gak pernah buat ibu itu marah. Ibu itu tuh, yang sering buat aku kesel karena aku gak pernah boleh main di deket rumah dia. Soal bapak mah, emang dia lagi tidur tadi pagi. Kalo aku lagi main bola sama temen aku , James.
-Bocah gundul bernama James: Tadi pagi kan, aku ke liburan ke Bandung sama Dick. Kebetulan dia punya vila disana.
Dan sebagai satpam terpercaya sekaligus calon detektif, aku pun langsung menduga bahwa pelakunya adalah James dan Dick bila dilihat dari alasan mereka. Ibu itu pun memberiku uang senilai goban.
Hari ke-2= Ada sopir taksi melapor bahwa ada 4 orang anak minta diantar dari Taman Lawang ke sini dan langsung kabur tanpa membayar. Aku pun menanyai sopir itu. "Gimana rupa dari anak-anak itu, Bang?" tanya aku. Dan dia menjawab, "Aku gak bisa inget banyak! Kalo gak salah sih, yang 1 gundul, yang 1 lagi bawa payung, trus juga ada yang pake sepatu pantofel. Semuanya laki-laki, kecuali yang satu lagi, perempuan bertopi! Bisa dipahami gak, Mas?". Aku pun membalas,"Oh, tenang aja! Serahkan smuanya padaku!".
Memang sebenarnya aku sudah kenal dengan anak-anak itu. Mereka anak-anak nakal di kompleks ini. Kalo gak salah sih, namanya Dick, James, Rina, dan Agung. Aku pun segera menangkap mereka dan kuserahkan pada sopir taksi itu. Setelah sopir itu memberiku uang senilai cepeceng, aku lalu meninggalkan keempat anak itu diurus oleh sopir itu. Aku melihat sekilas sepertinya mereka disuruh mengelap taksi itu. Kubiarkan saja karena mereka memang pantas digitukan.
Hari ke-3= Dompetku hilang. Hey, aku serius! DOMPETKU HILANG ENTAH KEMANA! Karena aku merasa anak-anak nakal tadi (tau kan?) yang selalu terlibat dalam kejadian dua hari kemaren, aku pun menyalahkan mereka mencuri dompetku untuk balas dendam. Ketika bertemu mereka, aku segera menangkap mereka dan memaksa mereka mengaku dimana dompetku diumpetin. Tapi mereka tidak mengaku juga. Dasar anak-anak nakal yang keras kepala. Saking marahnya aku sampai hampir menghukum mereka. Beruntung ketika aku sudah mau menghukum mereka ,ada anak tonggos (kakaknya Rina) datang membawa dompet aku. Katanya dompet itu dititipin di dia waktu tadi pagi aku berangkat ke pasar sebentar buat beli sayur. Ooh, malunya aku. Apalagi waktu anak-anak nakal tadi mencemooh aku gara-gara salah paham dan menyalahkan mereka.
Pesan dari aku: Buat kalian yang membaca pengalamanku ini, Harap jangan jadi pelupa dan jangan menyalahin orang lain yang kamu sebel. Oke? terima kasih karena udah mau baca ini.
TAMAT
MUSUH ADA DIMANA-MANA
Desi punya banyak musuh di sekolah. Ia juga punya teman, tapi musuhnya banyak juga. Dari Jeff yang marah dengannya karena digosipin pacaran sama orang jelek sampai cs nya shasha yang iri karena nilai Desi lebih bagus dari dia. Ada juga Arnold yang marah karena Desi sering mengganggu pacarnya. Pokoknya banyak deh musuhnya Desi.
Suatu hari pas hari Minggu, Desi dan papanya pergi ke taman. Papanya duduk sambil baca buku, sedangkan Desi cari sesuatu buat main. Akhirnya dia melihat sebuah ayunan. Desi mau main ayunan itu, tapi sepertinya sudah ada yang mendahului Desi, yaitu Tina, pacar Arnold yang sering diganggu Desi. Desi lalu berniat mengusir Tina.
Desi: Hei, Tina! Aku sudah duluan mau main ayunan itu! Bisa minggir, tidak?!
Tina: Ups, jadi kamu udah duluan toh? (Desi mengangguk-anggukan kepala) Kalo begitu entar kita gantian deh! Tapi aku duluan ya. (sambil memasang muka ngejek)
Desi: Gak bisa gitu dong! Aku udah liat duluan, tau!
Tina: Tapi aku duduk duluan, tau! (cuek aja)
Desi kesal lalu mendorong Tina sampai jatuh. Setelah Tina jatuh, Desi langsung menaiki ayunan itu. Tanpa disangka, Tina menangis keras karena kakinya luka. Akhirnya setelah mengetahui semuanya, papanya langsung membawa Desi pergi ke tempat lain. Ia tidak boleh lagi bermain ayunan biarkan Tina yang main.
Kini Desi pergi ke ujung taman dan melihat sebuah boneka tergeletak. Desi mengenali boneka itu adalah milik David. Karena itu Desi ingin merusaknya karena David juga musuhnya. Setelah merusak boneka itu, David melihat itu dan sangat marah , lalu memukul Desi. Desi berteriak kesakitan dan papanya datang. Melihat itu papanya kaget dan marah. Papanya berkata, "Kenapa, Des? David mukul kamu? Kamu ngerusak mainannya sih?". David langsung jawab, "Iya, Om! Desi rusak boneka aku, nih!". Dan saat itujuga, ayahnya David datang dan bilang ke David, "David, nakal kamu! Cuma gara-gara dia rusak boneka kamu aja, bukan berarti kamu boleh mukul dia!".Papa Desi langsung menarik tangan anaknya dan bilang ke ayah David, "Urusin tuh, anak kamu! Masa mukul anak saya!". Lalu ke Desi bilang,"Yuk pulang, Des! Di sini kamu berantem terus! Banyak musuh kamu di sini! Lama-lama ketemu grupnya shasha deh!".
Setelah hampir dekat pintu keluar taman, Desi langsung berkata sambil menunjuk suatu arah. "Eh, kayaknya omongan papa jadi kenyataan deh! Tuh ada shasha cs!".Dan benar saja. Ada genk shasha di ujung taman sedang tertawa-tawa melihat Desi dan papanya. Lalu shasha mulai menyindir, "Eh, liat deh! Tuh si Desi sama ayahnya!". Lalu Jane melanjutkan,"Ih, udah gede kok digandeng ayah! "Giliran Anna menyindir, "Iyah, takut ilang kali ya!". Terakhir Putri mengejek, "Dasar anak papi!". Serentak, semuanya tertawa bareng. Papa Desi terlihat kesal dan mendengus-dengus. "Kita bales aja mereka!" ajak Desi. Tapi papanya tidak setuju, "Jangan! Entar gak selese juga! Biarin aja mereka!" . Lalu mereka pulang.
Malamnya, Desi berpikir. Hari ini dia bertemu banyak musuh. Kenapa ya? Mungkin gara-gara musuhnya banyak kali ya. Lain kali kalo ada musuh, biarin aja deh. Jangan diladeni. Dan sejak saat itu Desi gak pernah mengganggu temannya lagi maupun musuh.
TAMAT
Suatu hari pas hari Minggu, Desi dan papanya pergi ke taman. Papanya duduk sambil baca buku, sedangkan Desi cari sesuatu buat main. Akhirnya dia melihat sebuah ayunan. Desi mau main ayunan itu, tapi sepertinya sudah ada yang mendahului Desi, yaitu Tina, pacar Arnold yang sering diganggu Desi. Desi lalu berniat mengusir Tina.
Desi: Hei, Tina! Aku sudah duluan mau main ayunan itu! Bisa minggir, tidak?!
Tina: Ups, jadi kamu udah duluan toh? (Desi mengangguk-anggukan kepala) Kalo begitu entar kita gantian deh! Tapi aku duluan ya. (sambil memasang muka ngejek)
Desi: Gak bisa gitu dong! Aku udah liat duluan, tau!
Tina: Tapi aku duduk duluan, tau! (cuek aja)
Desi kesal lalu mendorong Tina sampai jatuh. Setelah Tina jatuh, Desi langsung menaiki ayunan itu. Tanpa disangka, Tina menangis keras karena kakinya luka. Akhirnya setelah mengetahui semuanya, papanya langsung membawa Desi pergi ke tempat lain. Ia tidak boleh lagi bermain ayunan biarkan Tina yang main.
Kini Desi pergi ke ujung taman dan melihat sebuah boneka tergeletak. Desi mengenali boneka itu adalah milik David. Karena itu Desi ingin merusaknya karena David juga musuhnya. Setelah merusak boneka itu, David melihat itu dan sangat marah , lalu memukul Desi. Desi berteriak kesakitan dan papanya datang. Melihat itu papanya kaget dan marah. Papanya berkata, "Kenapa, Des? David mukul kamu? Kamu ngerusak mainannya sih?". David langsung jawab, "Iya, Om! Desi rusak boneka aku, nih!". Dan saat itujuga, ayahnya David datang dan bilang ke David, "David, nakal kamu! Cuma gara-gara dia rusak boneka kamu aja, bukan berarti kamu boleh mukul dia!".Papa Desi langsung menarik tangan anaknya dan bilang ke ayah David, "Urusin tuh, anak kamu! Masa mukul anak saya!". Lalu ke Desi bilang,"Yuk pulang, Des! Di sini kamu berantem terus! Banyak musuh kamu di sini! Lama-lama ketemu grupnya shasha deh!".
Setelah hampir dekat pintu keluar taman, Desi langsung berkata sambil menunjuk suatu arah. "Eh, kayaknya omongan papa jadi kenyataan deh! Tuh ada shasha cs!".Dan benar saja. Ada genk shasha di ujung taman sedang tertawa-tawa melihat Desi dan papanya. Lalu shasha mulai menyindir, "Eh, liat deh! Tuh si Desi sama ayahnya!". Lalu Jane melanjutkan,"Ih, udah gede kok digandeng ayah! "Giliran Anna menyindir, "Iyah, takut ilang kali ya!". Terakhir Putri mengejek, "Dasar anak papi!". Serentak, semuanya tertawa bareng. Papa Desi terlihat kesal dan mendengus-dengus. "Kita bales aja mereka!" ajak Desi. Tapi papanya tidak setuju, "Jangan! Entar gak selese juga! Biarin aja mereka!" . Lalu mereka pulang.
Malamnya, Desi berpikir. Hari ini dia bertemu banyak musuh. Kenapa ya? Mungkin gara-gara musuhnya banyak kali ya. Lain kali kalo ada musuh, biarin aja deh. Jangan diladeni. Dan sejak saat itu Desi gak pernah mengganggu temannya lagi maupun musuh.
TAMAT
Subscribe to:
Posts (Atom)
