Wednesday, February 3, 2021

PENEGAK HUKUM DAN KONSER MUSIK

Pada suatu pagi, seorang ibu penjaja perhiasan berjalan sambil menawarkan berbagai perhiasan yang dijualnya. "Ayo, silakan dipilih! Perhiasan-perhiasan bagus. Banyak macamnya"

Seorang pria bertubuh tinggi besar menghampiri ibu tersebut. "Boleh saya lihat kalung yang paling mahal, Mbak?".

Tentu saja hal tersebut membuat ibu penjual perhiasan merasa senang dan bersemangat. “Boleh,” jawab ibu tersebut sambil memperlihatkan kotak berisi kalung berhiaskan rubi.

“Wah, bagus sekali,” kata pria tersebut sambil menyeringai.

“Iya, harganya lima juta,” jawab ibu penjual perhiasan.

“Terima kasih!”, pria tersebut tiba-tiba merampas kotak berisi kalung dan berlari secepat mungkin.

Sontak ibu penjual perhiasan langsung menjerit “TOLONG!!! JAMBRET!!!”.

 

Pria tersebut berlari secepat mungkin dengan perasaan senang karena berhasil mendapatkan benda mahal. Tiba-tiba ia dihadang oleh seorang polisi yang mengacungkan senjata ke arahnya, “Angkat tangan, Penjahat!”

“Emangnya gue takut ama lu?”, jawab penjahat tersebut sambil berusaha berbalik badan, namun ia dihadang oleh polisi lain yang berdiri di belakangnya.

“Kepung dia, Bobby!”, perintah polisi tersebut pada polisi pertama.

“Siap, Joseph,” jawab Bobby.

Si penjahat tampak tidak takut pada mereka. “Kalian harus lawan gue dulu! Kalian belom kenal gue, Yudi si Hebat”.

“Bacot! Mendingan kau menyerah saja!”, kata Joseph.

“ENGGAK AKAN!!”, jawab Yudi si penjahat.

 

Joseph dan Bobby bertarung melawan Yudi. Saat bertarung, kotak berisi kalung terlempar dan tergeletak di lantai, lalu langsung dipungut oleh seseorang. Yudi yang pada saat itu sedang dikerubungi Joseph dan Bobby, melihat hal tersebut. “Hey! Ada yang ambil kalung itu..,” teriak Yudi.

Mendengar teriakan Yudi, para polisi langsung menoleh. Orang tersebut segera kabur sambil membawa perhiasan tersebut tanpa kotaknya.

“Kejar dia!”, perintah Joseph.

“Terus orang ini bagaimana?”, tanya Bobby yang sedang meringkus dan memegangi Yudi.

“Biarkan saja! Kita kejar orang itu dulu. Dia bawa kabur kalungnya,” jawab Joseph.

Maka Joseph dan Bobby meninggalkan Yudi dan bergegas mengejar pencuri kalung itu, namun si pencuri sangat gesit sehingga sulit tertangkap. Setelah si pencuri berhasil lolos, Joseph dan Bobby kembali ke tempat mereka meninggalkan Yudi, tetapi Yudi sudah tidak ada.

Sial! Kita gagal menangkap dua penjahat,” rutuk Joseph.

“Iya ya, mestinya tadi salah satu dari kita ringkus penjahat pertama dan seorang lagi mengejar yang kedua,” jawab Bobby. “Tapi sudahlah, tak perlu dipusingkan. Lebih baik kita laporkan hal ini ke ibu penjual perhiasan”.

 

Mereka berdua pun kembali ke ibu penjual perhiasan dan menceritakan semuanya. Ibu tersebut marah-marah pada mereka, “Gimana sih kalian? Sekarang kalung saya hilang. Kenapa kalian bodoh sih?”

“Kami minta maaf atas kecerobohan kami,” kata Joseph.

“Kami janji untuk mendapatkan kembali kalung itu,” sambung Bobby.

“Caranya bagaimana? Emang kalian yakin bisa?”, tanya ibu itu meremehkan mereka.

“Jangan begitu, Bu! Kami akan berusaha sebaik mungkin,” kata Bobby berjanji.

Ibu itu tampak kesal, namun akhirnya berusaha mengerti. “Awas kalau sampai kalian gagal. Saya akan nuntut kalian sebanyak 5 juta,” ancamnya.

Joseph mengangguk. “Baiklah kalau begitu!”

 

 ***

 

Di sebuah sekolah musik, seorang guru masuk ke dalam sebuah kelas. Saat itu hari sudah menjelang siang. Beliau membawa sebuah poster, lalu beliau menjelaskan poster tersebut pada siswa-siswi.

“Selamat siang, Bu Crusita!”, sapa para siswa secara serempak.

Bu Crusita tersenyum. “Selamat siang, anak-anak! Nah, ibu mau memberi pengumuman.”

“Pengumuman apa, Bu?”, tanya seorang siswi yang bernama Halin.

“Sekolah kita mengadakan konser musik besok. Para pesertanya adalah siswa-siswi sekolah ini. Ibu mengharapkan partisipasi kalian,” ajak Bu Crusita

Seorang siswi bernama Angel mengangkat tangannya, “Saya ikut, Bu.”

“Saya juga,”. Halin ikut mengangkat tangannya.

Bu Crusita merasa senang karena banyak siswa yang berpartisipasi. “Terima kasih atas partisipasi kalian,” kata Bu Crusita sambil tersenyum. “Nah, poster yang Ibu pegang ini akan menjelaskan lebih banyak tentang konser tersebut. Ibu akan tempel di papan pengumuman biar kalian bisa baca.”

Setelah selesai menempel poster, Bu Crusita keluar dari kelas.

 

“Gue bakal maen lagu yang bagus. Gue pasti menang,” kata Halin bersemangat. Namun hal tersebut malah membuat Angel kesal.

“Jangan belagu! Buktiin deh kalo lu bisa!”, tantang Angel.

Halin merasa risih mendengar perkataan Angel yang sewot, “Isshh… Apaan sih?! Memangnya lu lebih jago dari gue?”

“Paling nggak, lu jangan sombong gitu!”, jawab Angel.

“Kita lihat saja nanti, pas pertunjukkan!”, kata Halin kemudian.

“Sip! Siapa takut?”, jawab Angel.

Dialog di antara mereka berdua memunculkan aura tegang di dalam kelas sehingga mereka menjadi pusat perhatian para siswa lainnya yang terbujur kaku melihat perseteruan mereka. Beberapa dari mereka mulai berbisik. Sebetulnya mereka tidak heran dengan suasana ini dikarenakan sejak dulu Halin dan Angel memang terkenal sebagai musuh bebuyutan. Mereka selalu bersaing setiap ada pertunjukan bakat dan saling menunjukkan perasaan tidak suka satu sama lain.

 

Akhirnya, kelas pun bubar. Sekolah telah usai. Halin menuju ke gerbang depan sekolah untuk bertemu kakaknya yang selalu menjemputnya dari sekolah. Di depan gerbang, tampak Joseph sedang duduk di atas motor dengan masih mengenakan seragam polisi yang dibalut dengan jaket kulit yang tebal.

Halin menemui kakaknya itu. “Kakak Joseph, Besok sore ada konser musik. Halin ikut main piano. Kak Joseph ikut nonton ya,” kata Halin bersemangat.

Joseph kagum mendengarnya, “Wah, lu hebat. Kalau bisa, besok gue mau nonton.”

“Kak Joseph dukung Halin ya.”

“Iya dong. Adik Joseph pasti menang lomba.”

Kemudian mereka berdua pulang bersama.

 

  ***

 

Keesokan harinya, tampak para siswa peserta konser sedang bersiap-siap. Bu Crusita menyambut para penonton.

“Hadirin yang terkasih! Kami bersyukur atas kehadiran kalian semua untuk memeriahkan konser musik ini. Kami mengadakan konser ini untuk menunjukkan bakat-bakat para murid sekaligus untuk meningkatkan rasa percaya diri mereka. Semoga para hadirin dapat terhibur atas lagu-lagu yang dipersembahkan oleh para murid. Atas perhatiannya, kami mengucapkan terima kasih dan selamat menikmati pertunjukkan.”

Para murid bergantian menunjukkan keahlian mereka dalam bermain piano. Halin mendapat giliran maju setelah Angel. Joseph juga hadir di sana sebagai penonton. Angel pun bermain dengan sangat indah dan merdu.

Tiba-tiba HP Joseph berdering. Ia menjawabnya. Ternyata dari Bobby. “Ya, Bobby? Ada apa?”

“Lu ada di mana? Kok rame gitu suaranya?”, tanya Bobby heran.

“Gue lagi nonton pertunjukkan musik,” jawab Joseph. “Emang kenapa?”

“Lu cepetan datang ke tempat ibu penjual perhiasan kemarin dirampok. Kita kan harus tangkap penjahat,” jawab Bobby.

Joseph terkejut. “Sekarang?! Adek gue sebentar lagi maju.”

“Tugas kita sekarang lebih penting. Gue punya rencana buat nangkap penjahat. Ayo buruan ke sini!”, jawab Bobby.

Joseph hanya bisa pasrah. “Iya deh!”, jawabnya sambil menutup telepon, kemudian ia menelepon Halin yang saat ini tengah berada di belakang panggung.

Halin mengangkat hp-nya, “Ya, Kak Joseph?”

“Halin, sorry ya. Gue gak bisa lihat lu tampil. Gue ada tugas mendadak,” kata Joseph menyesal.

Halin merasa kecewa mendengarnya, namun tidak dapat berbuat apa-apa. Ia harus memaklumi kesibukan kakaknya yang bertugas sebagai aparat keamanan dan penegak hukum. “Ya sudah, gapapa deh. Tapi kalau bisa, kakak cepet balik ya,” kata Halin.

“Iyaa, Gue pergi dulu ya, daag,” pamit Joseph sambil menutup telepon.

Tepat pada saat itu, Halin mendengar namanya dipanggil untuk mempertunjukkan bakatnya. Halin pun maju ke atas panggung dan bermain piano dengan sangat indah hingga membuat penonton terpukau.

 

  ***

 

Setibanya Joseph di TKP, di sana sudah ada Bobby dan ibu penjual perhiasan yang menunggu dirinya.

“Akhirnya lu datang juga, Sep,” sambut Bobby.

“Ya, jelasin rencana lu sekarang!”, jawab Joseph tidak sabar.

Bobby menjelaskan rencananya, “Jadi tadi gue dan ibu ini sudah sepakat. Nanti ibu ini akan berjualan lagi untuk jadi umpan biar penjahat datang lagi, sementara kita berdua sembunyi. Kalau ada penjahat yang datang, kita langsung sergap.”

“Emangnya lu yakin kalau yang muncul adalah penjahat yang sama?”, tanya Joseph kritis.

Bobby mengangkat bahu. “Seharusnya begitu. Karena menurut analisis gue, kedua penjahat itu sepertinya memang mengincar perhiasan ibu ini. Paling nggak, salah satu penjahat akan datang.”

Joseph mengangguk. “Oke, Ibu sudah siap?”, tanya Joseph pada ibu penjual perhiasan dan dijawab oleh anggukan ibu itu. “Ya, kali ini jangan sampai gagal!”.

“Yuk Joseph, kita sembunyi di situ,” ajak Bobby sambil menunjuk suatu tempat.

 

Maka Joseph dan Bobby bersembunyi. Ibu itu kembali menjajakan perhiasan tidak jauh dari tempat persembunyian para polisi. Selang beberapa saat, pencuri yang kedua muncul.

“Ternyata kamu masih berani jualan. Cepat serahkan semua perhiasanmu kalau masih mau hidup!”, ancam penjahat itu sambil menarik-narik kotak berisi perhiasan yang dipegang ibu penjual. Namun ibu itu berusaha menahan kotak perhiasannya dengan kuat, “ENGGAAAKKKKK!!!!!!!!!!!!!”

Joseph segera berbisik pada Bobby, “Ayo serbu!”

Joseph dan Bobby keluar dari tempat persembunyian dan mengarahkan senjata mereka pada penjahat itu yang langsung terkejut ketika melihat mereka.

“Menyerahlah, Kawan! Sekarang saatnya kau masuk penjara,” perintah Joseph.

Melihat dirinya dikepung, penjahat itu segera melepaskan tangannya dari kotak perhiasan yang dipegang ibu penjual, lalu berusaha kabur.

“KEJAR!!!!”, perintah Joseph sambil berlari bersama Bobby, mengejar penjahat itu hingga akhirnya terpojok pada sebuah tembok. Kemudian mereka bertarung.

 

Sementara itu di tempat konser, Halin baru saja selesai bermain piano. Penonton bertepuk tangan dengan meriah. Halin menoleh ke arah kursi yang disediakan untuk kakaknya, tampak masih kosong, membuat Halin kecewa namun berusaha memaklumi. Halin menghembuskan napas panjang, lalu menunduk hormat kepada penonton dan berjalan ke belakang panggung.

 

Akhirnya, penjahat tersebut berhasil dikalahkan. Joseph dan Bobby pun menggeledah penjahat tersebut dan menemukan kalung rubi yang pertama kali dicuri di dalam saku penjahat itu. Mereka memborgol penjahat itu sambil menginterogasinya. Ternyata ia memang sudah lama mengintai ibu penjual perhiasan dan menunggu waktu yang tepat untuk berkesempatan merampok dagangannya. Walaupun begitu, ia bekerja secara individu dan sama sekali tidak mengenal Yudi, si penjahat yang ternyata mendahului dirinya merampok perhiasan.

Seusai mengamankan penjahat tersebut, Joseph dan Bobby mengembalikan kalung rubi itu pada ibu penjual perhiasan yang langsung menyambut mereka dengan gembira karena kalungnya kembali. Ia menyalami mereka berdua dengan penuh syukur, “Wah, makasih banyak ya. Kalian berdua ternyata hebat.”

“Ya, lain kali bila ada perampokan lagi, kami siap menanganinya,” jawab Joseph.

Bobby tersenyum bangga. “Baiklah, kami sekarang pergi dulu ya,” pamitnya.

“Bobby, lu mau ikut nonton konser?”, tanya Joseph.

“Iya, gue mau ikut. Yuk jalan,” ajak Bobby.

Mereka berdua pun pergi bersama-sama dengan motor mereka. Tanpa mereka sadari, Yudi mengintai dan mengikuti mereka dari belakang.

 

 ***

 

Joseph dan Bobby pun berjalan menuju konser. Sesampainya mereka di sana, Joseph dan Bobby merasa sangat kecewa karena tidak bisa menonton Halin. Kini pemain sudah berganti ke orang lain.

“Yahh, Halin sudah selesai. Kita gak bisa nonton deh,” keluh Joseph kecewa.

“Yuk kita ke belakang panggung, kasih selamat ke dia,” ajak Bobby.

“Mana boleh kita masuk ke belakang panggung. Kita tunggu saja, dia pasti sebentar lagi keluar,” jawab Joseph.  

 

Tak lama kemudian, Halin keluar dari panggung dan menemui mereka.

“Halo, Kak Joseph. Tadi Halin sudah tampil lho,” sapa Halin.

“Iya, sayang banget kita berdua nggak bisa lihat lu,” jawab Joseph.

“Gapapa lah! Hehehe,” jawab Halin lagi.

“Tadi lu mainnya bagus kan?”, tanya Bobby.

Halin mengangkat bahunya. “Yah, semua penonton tepuk tangan. Meriah banget. Tapi gak begitu yakin menang, soalnya banyak yang lebih jago dari Halin,” jawabnya.

Tiba-tiba Joseph menunjuk ke arah panggung. “Eh, itu sudah mau pengumuman pemenang ya?”, tanya Joseph saat melihat Bu Crusita berjalan ke depan panggung.

Halin menoleh. “Kayaknya sih, iya. Duh, deg-degan nih,” jawab Halin.

Bu Crusita mulai berbicara, “Para hadirin, tadi kita semua sudah melihat bagaimana para murid mengerahkan segala keterampilan mereka dengan baik. Sekarang kami akan menentukan siapa pemenang dari konser ini. Bagi yang tidak juara, jangan putus asa, sebab perjuangan masih panjang. Lain kali kalian masih bisa menang, asalkan kalian terus berlatih dengan rajin”.

Halin tampak tidak sabar. “Duuh! Lama banget sih. Bu Crusita kenapa harus basa-basi dulu? Deg-degan nih. Menang gak, ya?”

“Sabar, Lin! Sabar!”, kata Joseph menenangkan.

Bu Crusita melanjutkan pidatonya. “Maka atas keputusan para juri yang menilai, kami mengumumkan bahwa pemenangnya adalah ……………………. HALIN”.

Tepuk tangan sangat meriah. Halin terkejut mendengar namanya disebut sebagai pemenang. Kemudian ia berjalan maju ke panggung.

Bu Crusita menyalami Halin. “Selamat ya, Halin. Kamu sukses menjadi juara dalam konser ini”.

Halin tersenyum bangga. “Saya tak bisa berkata-kata lagi, Bu,” katanya sambil terharu.

Tiba-tiba Angel muncul di atas panggung. “Halin!”, seru Angel.

Halin pun menoleh karena dipanggil. “Angel?”, tanya Halin kebingungan. Tak seperti biasanya saingannya itu menghampiri ketika Halin menang. Biasanya Angel hanya memandangnya sambil cemberut. Namun kali ini sikap Angel sangat berbeda.

Angel pun menyalami Halin. “Selamat ya”.

Hal tersebut membuat Halin semakin heran, namun berusaha tersenyum dan membalas, “Iya. Makasih ya”.

“Sama-sama”., jawab Angel.

 

Halin kembali ke tempat duduk, lalu duduk di sebelah Joseph.

“Ciee… Juara. Hahaha,” goda Bobby.

“Ya jelas dong. Adek gue kan hebat,” jawab Joseph bangga sambil menyeringai.

Halin memegangi dadanya. “Halin senang banget deh. Eh, aku sebenarnya gak nyangka si Angel baik banget sama Halin. Aku sangka dia orangnya sombong. Tapi tadi tuh dia menyalami Halin,” kata Halin.

“Angel itu siapa?”, tanya Joseph.

“Yang tadi kasih salam ke Halin ya?”, tebak Bobby.

Halin mengangguk. “Iya, dia saingan Halin. Dia orangnya belagu banget, nganggap dia paling jago main musik di sekolah. Tuh orangnya,” jawab Halin sambil menunjuk ke arah Angel.

Joseph melihat Angel sekilas. “Yaya,” jawab Joseph yang tidak tertarik mendengar kesinisan Halin.

Halin mendelik sinis, “Ah, palingan dia cuma sok baik sama Halin”.

“Sudahlah gapapa. Halin mau ke toilet dulu rapiin make-up,” kata Halin sambil berlalu pergi, bersamaan dengan Bu Crusita yang kembali muncul di atas panggung. “Penonton sekalian, sebagai penutup acara hari ini, teman kami yang bernama Cahyanto akan menyanyikan sebuah lagu untuk kalian semua. Mari tepuk tangan untuknya!”, kata beliau sambil bertepuk tangan, diiringi dengan tepuk tangan para penonton.

 

Setelah tepuk tangan yang meriah, penonton kembali tenang. Cahyanto mulai menyanyi. Penonton sangat terpukau oleh suara Cahyanto yang merdu, begitu juga Joseph dan Bobby. Mereka tidak sadar bahwa Yudi mengintip dari belakang mereka. Tangannya memegang sebilah pisau.

Yudi bergumam pelan, “Gue harus habisi mereka berdua, biar gue bisa bekerja dengan tenang”. Yudi mengendap-endap mendekati Joseph dan Bobby. Ia tidak sadar bahwa gerakannya tertangkap oleh mata Angel yang kebetulan melihat dirinya dari agak jauh.

Angel mengernyitkan matanya. “Siapa sih? Kok gerakannya mencurigakan? Ada apa ya?”, gumam Angel bingung dan curiga. Namun kebingungannya segera berganti menjadi terkejut saat melihat orang mencurigakan tersebut mengacungkan pisau tepat di atas kepala Joseph, sementara Joseph dan Bobby masih belum menyadari bahaya. Cepat-cepat Angel mengambil tasnya, lalu memukul Yudi dengan tas tersebut hingga pingsan.

Joseph terkejut saat melihatnya, “Gila! Yudi nyaris ngebunuh gue”.

“Yuk, kita bawa dia ke kantor polisi,” ajak Bobby.

Joseph memandang Angel. “Kamu yang namanya Angel kan? Makasih ya, Angel. Untung kamu lihat. Mungkin saya sudah mati kalo gak diselamatin kamu,” ucap Joseph.

“Iya. Aku sendiri juga kaget lihat orang itu bawa-bawa pisau,” jawab Angel.

“Ya deh. Sekali lagi makasih ya,” ucap Joseph lagi yang dibalas dengan anggukan Angel.

 

Joseph dan Bobby membopong Yudi. Saat di pintu keluar, Halin menghampiri mereka dengan bingung dan terkejut. “Walah! Ada apa ini?”, tanya Halin.

“Orang ini tadi hampir bunuh gue,” jawab Joseph.

Halin terkejut mendengarnya, “HAH?! Kok bisa?!”

“Tadi dia sudah mau nusuk Joseph pake pisau. Terus Angel datang, mukul Yudi pakai tasnya,” jawab Bobby.

“Hah??? Angel?”, tanya Halin tak percaya.

“Iya. Angel yang nyelamatin gue. Dia memang baik kok,” jawab Joseph.

Halin menggelengkan kepalanya. “Wah! Gue gak nyangka, lho. Eh, omong-omong kenapa orang ini mau bunuh Kak Joseph?”, tanya Halin.

“Karena dia salah satu penjahat yang harus kita tangkap,” jawab Bobby.

Halin mengangguk, “Oo….. Penjahat berbahaya”.

“Ya, penjahat berbahaya yang kalah sama cewek. Hihi,” jawab Bobby terkikik.

“Kita pergi dulu ya, mau bawa orang ini ke kantor polisi,” pamit Joseph.

“Oke deh,” jawab Halin.

 

Setelah Joseph dan Bobby pergi, Halin menemui Angel dan memeluknya. “Angel, makasih banget sudah nyelamatin kakak gue”.

Angel terkejut mendengarnya, “Hah? Itu tadi kakak lu?”, tanyanya heran.

“Iyaa lah, hahaha,” jawab Halin.

“Yaa, sama-sama,” jawab Angel singkat.

“Kita makan bareng yuk di luar,” ajak Halin.

Dan sejak saat itu mereka bersahabat.

 

 

TAMAT

Saturday, October 11, 2014

Our Best Mentor


Sore ini kelas XII-E baru saja usai pelajaran kesenian. Kemudian, mereka akan mendapat pelajaran Agama sebagai pelajaran terakhir hari ini. Mereka menunggu kedatangan Pak Alex, guru Agama. Setelah guru kesenian keluar dari kelas, Jo melakukan body stretching dengan malas.
"Aahh..seperti biasa Pak Alex datang terlambat. Mungkin aku masih sempat ke toilet dulu.", kata Jo.
"Mendingan jangan, Jo. Kalau Pak Alex datang sebelum kamu masuk kelas, kamu akan mendapat masalah.", kata Greg, teman sebangkunya.
"Duh, aku sudah kebelet. Sebentar saja.", jawab Jo sambil berlari keluar kelas.
Dua menit setelah Jo keluar, tiba-tiba Pak Alex memasuki kelas. Seisi kelas yang awalnya berisik langsung menjadi sunyi. Pak Alex memang terkenal sebagai guru yang galak.
Pak Alex langsung mulai mengajar, "Ya! Mari kita lanjutkan pembahasan minggu lalu. Kita sampai...".
Jo segera membuka pintu dengan terengah-engah. Ia berharap tidak akan mendapat masalah, toh hanya terlambat 10 detik. Namun, ...
"Di luar!!", jawab Pak Alex singkat. Jo terhenyak, lalu segera keluar dan menutup pintu.
"Kasihan Jo.", kata Greg dalam hati.

Sementara itu, kelas X-D sedang belajar Bahasa Indonesia. Ibu Priskan selaku guru bahasa meminta agar dua orang muridnya maju ke depan kelas untuk mengerjakan soal di papan tulis. Stefan dan Albert maju secara sukarela. Stefan mengerjakan soal di bagian kiri, sedangkan Albert mengerjakan soal di sebelah kanan Stefan. Albert selesai terlebih dulu, sementara Stefan masih menulis. Albert melihat bahwa Ibu Priskan sedang tidak melihatnya, melainkan beliau sibuk mengawasi murid-murid yang duduk di belakang kelas. Albert mendadak mendapat ide iseng. Ia langsung menusuk tubuh Stefan saat Stefan masih sibuk menulis. Tentu saja Stefan terkejut dan langsung marah. Para murid yang duduk langsug tertawa melihat kejadian tersebut. Ibu Priskan langsung menoleh dan melihat Stefan sedang menendang Albert.
"Kalian apa-apaan sih?! Ibu suruh kalian untuk mengerjakan soal, kalian malah bikin keributan!", kata Ibu Priskan marah.
"DIA YANG MULAI!!!", teriak Stefan sambil menunjuk Albert.
"Jangan percaya dia, Bu. Dia tuh yang cari perhatian.", jawab Albert.
"Sudah cukup!! Tugas kalian sudah selesai kan? Kalian kembali ke tempat duduk, sekarang!", perintah Bu Priskan.
Stefan berjalan dengan kesal dan emosi. Albert kembali ke tempat duduknya dan disambut hangat oleh kedua temannya, yaitu Bryan dan Raditya. Mereka bertiga memang hobi menggoda dan mengganggu Stefan yang sensitif dan pemarah. Stefan juga tidak mempunyai teman yang membelanya. Hanya Robert, kakak Albert yang bersedia menghiburnya.
Theresia, seorang gadis yang lugu, ingin sekali mengatakan pada Ibu Priskan bahwa memang Albert yang memulai keributan tersebut. Namun, Bryan langsung mencegatnya. Oleh karena Bryan selalu bersikap baik pada Theresia, maka Theresia segan memarahi Bryan dan ia hanya terdiam. 

Bel berbunyi, menandakan pelajaran hari ini telah berakhir. Pak Alex keluar dari kelas XII-E dan langsung melewati Jo tanpa menoleh sedikit pun padanya. Jo berjalan memasuki kelas dengan lemas. Greg langsung bercanda untuk menghiburnya.
"Keluar kamu... Belajar di luar. Hahaha!", canda Greg. Namun wajah Jo tampak tidak terhibur. Jo langsung melepas kacamatanya dan mulai menangis. Greg terkejut melihatnya. "Jo! Kamu kenapa, Jo? Jo!", tanya Greg berusaha memeluk Jo.

Robert berjalan menuruni tangga dengan semangat. Ia hendak menjemput adiknya, Albert, untuk pulang bersama. Saat melewati kelas X-D, di dalam kelas tersebut hanya ada empat orang. Robert melihat Albert dan kedua temannya tengah mengejek Stefan.
"Huu...Stefan sang pemarah. Ditusuk begitu saja langsung mengamuk, kayak raja babon. Hahahahahaha!!!", ejek Bryan, sementara Albert dan Raditya menertawakan dan menjulurkan lidah.
"DASAR!! KALIAN KEPARAT!!!AAAGGGGHHHHH!!!!!!!", Stefan langsung mengamuk bagaikan singa kelaparan.
"Hiihhh... takut ihh!", "Kami tak takut pada orang gila!", "Stefan jelekkk!", ejek Albert, Bryan, dan Raditya sambil melompat-lompat menghindari Stefan.
"AstagaaAAAA!!! Berhentiiii semuaa!!", lerai Robert pusing, "Buset deh, kalian ini gak berhenti-berhentinya berantem melulu. Baikan saja sih kenapa??!!!"
Robert sudah mengetahui provokator dari tiap pertengkaran tersebut sebab Albert dan kawan-kawannya lah yang selalu memulainya. Albert tidak menjawab. Bola mata Albert tertuju pada Stefan dengan kesal karena kakak kandungnya lebih membela Stefan ketimbang dirinya.
“Kalian bertiga, tolong berhenti ganggu Stefan. Sekali lagi aku minta stop! Kalian kan tahu betapa Stefan sangat sensitif!” kata Robert memelas. Robert sangat iba pada Stefan. Ia selalu berharap agar Albert dan teman-temannya berhenti mengganggu Stefan dan mau menerimanya sebagai teman. Namun, Stefan selalu saja diganggu dan tidak mempunyai teman satu pun. Stefan langsung pergi meninggalkan mereka. Robert menoleh sebentar pada Albert dan teman-temannya, lalu pergi meninggalkan mereka untuk membeli makanan. Sambil makan, ia terus memikirkan masalah tersebut. 

Tiba-tiba Ignatius menghamburkan lamunannya, “Robert, cepat ke kelas! Jo lagi menangis dan kita gak tahu kenapa. Kita sudah coba menghiburnya, tapi tetap gak bisa.”
Robert terkejut mendengarnya. Ia langsung menuju ke kelasnya untuk melihat hal tersebut. Beberapa orang sedang mengerumuni Greg yang merangkul Jo. Tidak ada yang mengerti kenapa ia menangis. Karena itulah Ignatius memanggil Robert. Selama ini, Robert terkenal sebagai penasihat yang handal. Ia berbakat untuk menjadi seorang psikolog. Ia lalu mendekati Jo dan bertanya, “Ada apa?
Teman-temannya segera meninggalkan mereka, kecuali Greg yang masih ingin menemani Jo. Robert mulai menanyai Jo, “Sebenarnya, apa yang membuatmu sedih, Jo? Katakanlah!”. Jo tetap sibuk dengan tangisannya. Ia menutupi kedua matanya dengan lengan kanannya, sedangkan tangan kirinya memegangi kacamatanya. Robert berusaha menghibur Jo agar ia tenang. Bahkan, Jo dan Greg, diajak untuk bermain di rumahnya Robert. Di sana Robert tetap melanjutkan menghibur Jo. Semakin lama, hati Jo semakin tenang. Mereka semua merasa lega.
Mereka bertanya lagi, “Tadi kamu kenapa sih, Jo?”. Namun mereka tidak mendapatkan jawaban. “Sudahlah, lupakan saja!” kata Jo tenang. Ia tidak mau mengakui alasannya.  
“Yang penting Jo sudah tidak menangis. Mungkin memang sebaiknya kita lupakan masalah tadi.”, sambung Greg. Robert sebetulnya masih penasaran, tetapi akhirnya ia mengangguk juga.
“Bagaimana bila kau melihat ini?”, tiba-tiba saja Gabriel, kakak Stefan yang kebetulan juga ada di sana, menunjukkan secarik kertas berisi gambar-gambar buatannya pada Jo. Jo tertawa kecil melihatnya sebab ia sangat menyukai seni. “Huh, dasar! Kau gemar sekali menggambar wanita.”, jawab Jo setelah melihat gambar tersebut. Gabriel hanya tersenyum.
“Gabriel, bagaimana kabar Stefan? Apakah ia sudah lebih baik?”, tanya Robertt.
“Ah, dia terlalu sering marah. Biasalah.”, jawab Gabriel santai, seolah-olah masalah adiknya tersebut sudah menjadi kebiasaan yang wajar.
“Mengapa selama ini engkau kurang peduli terhadap adikmu? Ini benar-benar masalah yang serius. Dia tidak boleh seperti ini terus karena dapat berpengaruh terhadap masa depannya .”, jawab Robert kecewa.
“Aku tahu. Tetapi tidak ada yang dapat kita lakukan. Sejak ia masih SD, ia sudah bersikap seperti itu. Seringkali aku berusaha menghiburnya, tetapi ia tetap tidak berubah.”, jawab Gabriel santai.
“Huh! Kalian sedang membicarakan Stefan? Sudahlah! Aku juga merasa memang kepribadiannya sudah seperti itu.”, sambung Greg.
Robert menjadi semakin kecewa. Namun ia tetap tidak mau menyerah. “Aku yakin, pasti ada jalan keluar yang baik untuk menyelesaikan masalah ini. Bila memang Stefan bersikap seperti itu, maka Albert dan teman-temannya harus berhenti menggodanya. Bagaimanapun caranya, tetap akan kuusahakan agar mereka berhenti menggoda Stefan.”, kata Robert.
“Percuma saja. Walaupun kamu adalah kakaknya Albert, hingga sekarang Albert tetap tidak menghiraukan laranganmu.”, jawab Greg.
“Sudah, cukup! Lebih baik kita tidak membicarakan masalah apapun lagi sekarang. Hari ini adalah hari Jumat, hari untuk bersenang-senang karena besok libur sekolah. Kita main saja sekarang!”, kata Jo.
“SETUJUUU…..”, jawab mereka semua serempak.. Mulai malam itu hingga hari Minggu mereka penuhi dengan berbagai macam kegiatan bersama. Mulai dari jalan-jalan di Mall, makan bersama, nonton bioskop, dan berenang di Water Boom.

Pada hari Senin, mereka masuk sekolah seperti biasa. Jo sedikit takut saat pergantian pelajaran untuk belajar agama.
“Duh, aku gemetar. Semoga Pak Alex tidak memarahiku saat ia masuk..”, kata Jo.
“Tenanglah! Dan berharap agar hati beliau sedang gembira!”, jawab Robert menghibur.
Tiba-tiba Elisabeth, ketua kelas, memanggil Jo dari luar kelas, “Jo, kamu ikut dengan saya!”, kata Elisabeth. Jo pun keluar dari kelas dan mengikuti Elisabeth.
Beberapa saat kemudian, Elisabeth pun kembali ke kelas. Pak Alex mengikutinya dari belakang. Elisabeth duduk di bangkunya dengan wajah memelas. Bernard, pacar Elisabeth yang duduk disebelahnya, berbisik pada Elisabeth, “Elis, Jo mana? Kok dia tidak ikut masuk?”. 
Elisabeth membuang nafas panjang, lalu menjawab, "Jo yang malang. Ia tidak boleh mengikuti pelajaran agama. Kasihan, ia harus menunggu di luar hingga pelajaran agama selesai.”. Bernard terkejut. Setelah pelajaran agama usai, ia langsung menceritakan hal tersebut pada teman-temannya. 
“Ya ampun! Teganya Pak Alex berbuat demikian.”, kata Robert terkejut.
“Kasihan Jo. Ia mungkin saja mengalami stres berat akibat hal ini.”, sambung Elisabeth peduli.
“Salah sendiri! Sejak awal sudah kuperingatkan agar ia tidak berlari ke kamar kecil untuk menunggu kedatangan Pak Alex, tetapi ia tetap saja nekat.”, sambung Greg.
“Biar bagaimanapun juga, Jo harus dapat mengikuti pelajaran agama lagi. Satu-satunya jalan adalah Jo harus meminta maaf pada Pak Alex.”, jawab Robert.
“Kurasa memang itulah jalan terbaik baginya.”, sambung Ignatius.
“Itu dia datang.”, tunjuk Bernard. Semuanya menoleh ke arah pintu masuk dimana Jo berjalan masuk dengan sangat pelan. Wajahnya menunduk menyesali perbuatannya. Semua teman-temannya langsung menyelubungi dirinya.
“Jo, kamu harus meminta maaf pada Pak Alex! Itu adalah jalan terbaik satu-satunya.”, kata Bernard.
Jo menggelengkan kepalanya. “Percumalah. Pak Alex telah memberi cap buruk padaku. Aku tidak dapat berbuat apa pun selain mengikuti kemauannya untuk membiarkan aku berdiri di depan tiap pelajaran agama.”, jawab Jo lemah.
“Ayolah, Jo! Kamu tidak boleh menyerah! Kamu harus memberanikan diri untuk menemuinya! Istirahat nanti, kamu akan aku temani untuk bertemu dengannya.”, jawab Bernard.
Jo tampak ragu-ragu. Beberapa detik kemudian ia mengangguk pelan. Greg langsung menghiburnya, “Begitu donk, Jo! Itu baru teman baikku.”. Jo tersenyum kecil sambil melirik ke arah Greg.

Istirahat pun tiba. Robert segera turun menuju kelas adiknya. Ia akan selalu mengontrol keadaan Stefan dengan Albert dan kawan-kawan. Albert dan kawan-kawannya tidak memiliki rencana baru untuk menggoda Stefan selain meledek kejadian saat itu. Robert hanya dapat menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia mulai merasa pusing untuk mendamaikan mereka semua. Setelah istirahat usai, Robert kembali ke kelasnya dan menemui Bernard untuk menanyai Jo.
Bernard memggeleng. “Huh! Bagaimana Jo mau meminta maaf? Tadi kami berdua hendak menuju ruang guru untuk menemui Pak Alex. Tepat di depan pintu, kami berjumpa dengan seorang siswa kelas XI bernama Spencer. Dia sangat ramah, jadi dia mau menanyai kami saat melihat wajah Jo pucat. Ternyata, dia juga pernah punya masalah dengan Pak Alex. Dulu, ia pernah tertangkap basah saat berusaha membolos satu kali pelajaran agama karena lupa mengerjakan tugas. Kemudian ia mencoba berhadapan sendirian dengan Pak Alex untuk meminta maaf, tetapi Pak Alex tidak mau melirik sedikitpun ke arahnya. Berkali-kali ia mencoba, ia tetap mendapat hasil yang sama. Setelah kami mendengar ia bercerita, Jo langsung patah semangat dan tidak mau menemui Pak Alex.”, jelas Bernard panjang lebar. Wajah Robert sungguh kecewa mendengarnya.
“Karena ia yang membuat Jo patah semangat, ia juga yang harus menumbuhkan kembali semangat Jo untuk meminta maaf pada Pak Alex.”, jawab Robert. 
Lalu Robert berkata pada Jo, “Jo, kali ini kamu harus bisa! Aku janji aku tidak akan membiarkanmu berusaha sendiri. Kamu masih belum mencoba, kamu pasti belum mengetahui tindakan Pak Alex padamu. Percayalah padaku! Pulang sekolah nanti, kita akan menghadap Pak Alex di ruang guru.”, kata Robert. Jo sedikit memandang Robert dengan ragu-ragu. Namun semangatnya tetap lemah. Ia tidak menyetujui Robert.
“Bagaimana bila pulang sekolah nanti, kita menemui Spencer sekali lagi untuk meminta penjelasan lebih lanjut? Sebenarnya aku sudah mengenal Spencer karena kami mimilih ekskul yang sama. Kamu mau?”, tawar Robert. Kali ini Jo mengangguk.

Saat yang ditunggu-tunggu pun tiba. Robert mengajak Jo mendatangi Spencer di kelasnya. Robert mulai menanyai Spencer di depan Jo, “Spencer, bila dulu kamu pernah dihukum oleh Pak Alex seperti halnya Jo, apakah yang kamu lakukan sehingga kamu dapat diterima kembali olehnya?”.
“Dulu aku terus meminta maaf padanya dan melakukan hal tersebut berulang kali, tetapi ia tetap tidak mau memaafkanku. Akhirnya, hatinya luluh juga setelah ia membiarkanku melewatkan satu ulangan agama. Jadi aku boleh mengikuti pelajarannya lagi semenjak itu.”, jelas Spencer.
Cerita Spencer membuat Jo merasa takut. Ia khawatir apabila ia harus melewatkan ulangan agama. Semangatnya tambah menurun. Robert pun berusaha menghibur Jo sambil berjalan meninggalkan kelas Spencer.
“Bersabarlah dulu, Jo! Aku yakin bahwa ada cara lain untuk meluluhkan hati Bapak Alex.”, kata Robert sambil merangkul Jo yang masih tertunduk kecewa.
“Tidak! Tidak ada jalan yang bagus sedikitpun. Pak Alex telah mengecapku sebagai murid bermasalah.”, jawab Jo pesimis.

Tiba-tiba terdengar suatu keributan. Robert dan Jo serentak terkejut. Mereka segera berlari menuju sumber keributan tersebut. Setibanya di dalam kelas X-D, terlihat Stefan yang berusaha memberontak sambil berteriak. Raditya dan Bryan berusaha memegangi kedua tangan Stefan, sementara Albert semakin mundur menjauh. Robert langsung berlari ke tengah-tengah mereka dan berusaha menenangkan situasi yang panas tersebut.
“BERHENTI SEMUANYA! TOLONG HENTIKAN SEMUA INI!”, teriak Robert sehingga suasana mulai hening. Stefan tidak lagi mengamuk. Jo melihat semuanya di depan pintu dengan takut dan tidak berani mendekat.
“Ada apa ini? Tidak bisakah kalian berhenti bertengkar?!”, kata Robert lagi.
“DIA MAU MEMUKUL SAYA, KAK!”, jawab Albert sambil menunjuk Stefan. 
“ARRGGGHHHH….. LEPASKAN SAYA!”, teriak Stefan berontak. Raditya dan Bryan makin kencang memegangi tangan Stefan. “Tidak bila kamu terus mengamuk seperti ini.”, jawab Raditya.
“Tolong kalian semuanya tenang!” perintah Robert. “Sekarang kalian semua duduk di tempat yang terpisah. Tolong kalian bertiga berdiri di sebelah kiri, sedangkan Stefan berdiri di sebelah kanan!”.
Mereka melakukan peritah Robert. Lalu Robert menunjuk Stefan, “Stean, tolong kamu ceritakan apa yang telah terjadi sebelum kami tiba di sini!”.
Stefan mulai bercerita, “Tadi ketika saya sedang membereskan tas saya, mereka bertiga berdiri di depan saya. Lalu Albert berpura-pura menulis di papan dan Bryan menusuk badan bagian sampingnya. Kemudian Albert berpura-pura kesakitan dan menendang Bryan sambil tertawa-tawa. MEREKA BERUSAHA MENGEJEK SAYA! MEREKA MENYINDIR SAYA!!”
“Apakah cerita itu benar, Albert?”, tanya Robert.
 Albert mengangguk. “Lalu ia berusaha memukul saya, kak. Untunglah teman-teman memegangi tangan Stefan dengan cekatan.”, lanjutnya.
“Huh! Tolong dong! Kakak pusing tujuh keliling uuntuk menghentikan perbuatan kalian. Kenapa sih Albert, kamu tidak bisa berhenti menggoda Stefan?”, tanya Robert sambil memegangi kepalanya.
“Tidak! Bukan Albert dan teman-temannya yang harus diubah, tetapi Stefan.”, jawab Jo tiba-tiba. Semua orang pun menoleh ke arahnya. Jo akhirnya memberanikan diri untuk masuk dan mendekati Stefan.
“Mereka tidak akan berubah. Mereka akan terus mengganggumu, kecuali bila kamulah yang berubah.”, kata Jo pada Stefan. “Janganlah kamu bersikap sensitif. Jadilah laki-laki sejati, yang tidak mudah goyah saat diterjang ombak! Ibaratnya bila merekalah Sang Ombak, dan bila kamu mudah goyah, maka mereka tidak akan pernah berhenti menghempasmu. Jangan hiraukan mereka, sebab mereka yang menggodamu, sesungguhnya hanya iri padamu.”
Semuanya, termasuk Stefan, tercengang mendengar perkataan Jo. Perkataannya sungguh bijak. Nasihatnya sangat ampuh untuk menguatkan mental Stefan. 

Semenjak itu, Stefan tidak lagi mudah tersinggung dan Albert semakin bosan menggodanya.

“Kamu sungguh hebat, Jo. Ternyata kamu lebh bijaksana ketimbang diriku.”, puji Robert sambil berjalan bersama Jo di lorong sekolah. Jo tersenyum simpul. “Kini tinggal satu masalah yang belum terselesaikan, yaitu masalah kamu sendiri. Apakah kamu benar-benar tidak mau berusaha, Jo? Membiarkan Pak Alex tetap menghukummu?”, tanya Robert. Jo berpikir sejenak, lalu ia menjawab, “Baiklah, aku mau berhadapan dengannya nanti siang saat istirahat.”. Robert tersenyum puas.

Siangnya pada jam istirahat, sebelum pelajaran agama dimulai, Jo dan Robert mengintip ke dalam ruang guru. Jo sempat merasa takut sedikit saat melihat Pak Alex yang sibuk mengetik di laptopnya. Pelan-pelan, mereka berdua pun masuk dan mendekati guru tersebut. Di samping Pak Alex, Jo mulai berkata pelan, “Pak Alex, tolong maafin saya!’. Pak Alex menoleh sebentar ke arah Robert, lalu kembali mengetik. Sedikit pun ia tidak mau melihat ke arah Jo.
“Tolong Pak Alex, maafkan saya!” Jo berkata sekali lagi. Air matanya hampir menetes. Robert pun meremas tangannya, berharap hal baik akan terjadi. Ia merasa sangat iba pada Jo yang berusaha sekuat-kuatnya untuk meminta maaf, tetapi diacuhkan oleh Pak Alex.
Pak Alex tetap tidak menoleh hingga bel pun berbunyi, menandakan pelajaran selanjutnya akan segera dimulai. Pelajaran selanjutnya pada kelas XII-E adalah pelajaran agama. Mendengar bel berdering, Jo langsung menutup wajahnya dengan tangan sambil membalikkan badan, hendak keluar dari ruang guru. Robert merangkul Jo dan mereka keluar bersama.
Sesampainya di dalam kelas, Bernard sudah menunggu kabar baik dari mereka. “Bagaimana? Apakah Jo berhasil?”, tanya Bernard. Robert menggeleng-gelengkan kepalanya dengan kecewa. Ia memandang Jo yang mengelap air matanya dengan tisu. Greg pun hanya terdiam, tidak tahu hendak berkata apa.. Jo lalu meletakkan kacamatanya di atas meja, kemudian menarik Ignatius ke luar kelas.
“Apa yang hendak kamu lakukan?”, tanya Ignatius yang heran.
“Tolong temani aku disini!”, jawab Jo sambil terus memegangi Ignatius.
“Untuk apa? Aku mau belajar. Tidak mungkin menemanimu disini.”, jawab Ignatius.
“Tolonglah!”, pinta Jo memelas.
Tiba-tiba Pak Alex sudah berdiri di depan mereka berdua. “Masuk, Ignatius!”, katanya.
“Maaf, Jo!”, kata Ignatius sambil berjalan masuk ke dalam kelas.

Seisi kelas melihat Pak Alex di luar, meskipun tidak mendengar dengan jelas suaranya. Kelihatannya ia sedang memarahi Jo. Lalu Pak Alex masuk ke dalam kelas, diikuti Jo. Greg tersenyum puas melihatnya sebab ia menduga bahwa Jo telah diperbolehkan mangikuti pelajaran agama. Jo berhenti di depan kelas dan menoleh ke arah Pak Alex. Pak Alex melihatnya tanpa berkata apapun, menunggu Jo berbicara.
Kemudian Jo memulai pidatonya di depan kelas, “Pak Alex dan teman-teman, saya mau mengucapkan maaf karena pada hari Jumat, saya terlambat masuk ke dalam kelas. Saya berjanji untuk tidak mengulangi perbuatan yang sama untuk waktu ke depan apabila saya masih ingin mengikuti pelajaran agama.”.
Seisi kelas berkata dengan serempak, “Maafkan Jo, Pak!”.
Jo menoleh ke arah Pak Alex. Pak Alex mengangguk dan memepersilahkan Jo duduk. Dengan semangat, Jo langsung mengucapkan terima kasih pada Pak Alex dan segera duduk di bangkunya. Mereka pun mengikuti pelajaran seperti biasa.

Pada waktu istirahat, Jo berkumpul bersama teman-temannya. Mereka membicarakan mengenai kejadian tadi.
“Puji Tuhan! Ternyata, Jo tidak perlu mengorbankan ulangan satu pun. Pak Alex telah membiarkannya mengikuti pelajaran hanya dengan pidato singkat.”, kata Ignatius.
“Senangnya karena teman kita dapat kembali belajar bersama lagi. Sungguh sepi rasanya kelas tanpa Jo, walau hanya satu pelajaran pun.", sambung Gabriel.
“Satu lagi yang menyenangkan.”, tambah Robert. “Albert dan kawan-kawan kini mulai bosan menggoda Stefan yang sudah kebal diledek. Stefan tidak lagi tampak lucu saat marah saat digoda. Mentalnya kini sudah kuat. Dan itu semua karena Jo.”
“Jo penasihat baru kita.”, sambung Greg sambil tertawa kecil.  Jo hanya tersenyum malu.
“Kita telah mendapatkan suatu pelajaran.”, kata Elisabeth. “Orang yang mempunyai masalah berat pun juga dapat membantu menyelesaikan masalah orang lain. Jo yang sedang memiliki masalah berat, ternyata masih dapat menolong Stefan keluar dari masalahnya.”
“Pacarku memang pintar.”, jawab Bernard sambil memeluk Elisabeth.
“Semakin hari, Stefan semakin membaik. Terima Kasih, Jo. Nasihatmu lebih baik daripada nasihat Robert.”, kata Gabriel sambil menepuk pundak Jo.
“Ah, tidak perlu berlebihan! Memang menurutku Stefan yang harus kuat mental, bukan Albert yang berhenti mengganggunya.”, jawab Jo merendah. “Yang paling membuatku senang adalah karena aku mempunyai teman-teman yang sungguh baik. Kalian memang teman-temanku yang paling baik.”
Mereka semua pun tertawa bersama.

TAMAT