Monday, April 27, 2009

A DIARY OF SATPAM

Hai, namaku Mas William. Aku seorang satpam kompleks yang paling dipercaya orang-orang sekitar. Bahkan aku sampai mengenal orang-orang di lingkungan ini. Dan inilah pengalamanku bekerja selama 3 hari:

Hari ke-1= Seorang ibu tua berbaju merah tengah bersedih pagi ini karena bunga kesayangannya hancur tergeletak di tanah. Ia pun menyerahkan tugas ini padaku. Langkah pertama, aku bak seorang detektif segera menginterogasi beberapa warga sini. Inilah jawaban orang-orangnya ketika kuintrogasi:

-Bapak berjas hijau: Bukan aku yang hancurin bunga itu. Sungguh. Aku tadi pagi masih tidur. Kalo gak percaya, tanya aja anakku, Dick.
-Bocah ganteng( namanya Dick): Yang jelas aku gak pernah buat ibu itu marah. Ibu itu tuh, yang sering buat aku kesel karena aku gak pernah boleh main di deket rumah dia. Soal bapak mah, emang dia lagi tidur tadi pagi. Kalo aku lagi main bola sama temen aku , James.
-Bocah gundul bernama James: Tadi pagi kan, aku ke liburan ke Bandung sama Dick. Kebetulan dia punya vila disana.

Dan sebagai satpam terpercaya sekaligus calon detektif, aku pun langsung menduga bahwa pelakunya adalah James dan Dick bila dilihat dari alasan mereka. Ibu itu pun memberiku uang senilai goban.

Hari ke-2= Ada sopir taksi melapor bahwa ada 4 orang anak minta diantar dari Taman Lawang ke sini dan langsung kabur tanpa membayar. Aku pun menanyai sopir itu. "Gimana rupa dari anak-anak itu, Bang?" tanya aku. Dan dia menjawab, "Aku gak bisa inget banyak! Kalo gak salah sih, yang 1 gundul, yang 1 lagi bawa payung, trus juga ada yang pake sepatu pantofel. Semuanya laki-laki, kecuali yang satu lagi, perempuan bertopi! Bisa dipahami gak, Mas?". Aku pun membalas,"Oh, tenang aja! Serahkan smuanya padaku!".

Memang sebenarnya aku sudah kenal dengan anak-anak itu. Mereka anak-anak nakal di kompleks ini. Kalo gak salah sih, namanya Dick, James, Rina, dan Agung. Aku pun segera menangkap mereka dan kuserahkan pada sopir taksi itu. Setelah sopir itu memberiku uang senilai cepeceng, aku lalu meninggalkan keempat anak itu diurus oleh sopir itu. Aku melihat sekilas sepertinya mereka disuruh mengelap taksi itu. Kubiarkan saja karena mereka memang pantas digitukan.

Hari ke-3= Dompetku hilang. Hey, aku serius! DOMPETKU HILANG ENTAH KEMANA! Karena aku merasa anak-anak nakal tadi (tau kan?) yang selalu terlibat dalam kejadian dua hari kemaren, aku pun menyalahkan mereka mencuri dompetku untuk balas dendam. Ketika bertemu mereka, aku segera menangkap mereka dan memaksa mereka mengaku dimana dompetku diumpetin. Tapi mereka tidak mengaku juga. Dasar anak-anak nakal yang keras kepala. Saking marahnya aku sampai hampir menghukum mereka. Beruntung ketika aku sudah mau menghukum mereka ,ada anak tonggos (kakaknya Rina) datang membawa dompet aku. Katanya dompet itu dititipin di dia waktu tadi pagi aku berangkat ke pasar sebentar buat beli sayur. Ooh, malunya aku. Apalagi waktu anak-anak nakal tadi mencemooh aku gara-gara salah paham dan menyalahkan mereka.

Pesan dari aku: Buat kalian yang membaca pengalamanku ini, Harap jangan jadi pelupa dan jangan menyalahin orang lain yang kamu sebel. Oke? terima kasih karena udah mau baca ini.
TAMAT

No comments: