Siang ini, Jenny pulang sekolah dan tanpa mengucapkan salam pada mamanya, ia langsung masuk kamarnya, lalu membanting tasnya dengan kesal. Mamanya yang melihat itu, langsung menghampiri anaknya .
“Ada kenapa, sayang? Kok tumben hari ini kesal banget?” Tanya mamanya sambil mengelus kepala anaknya.
“Itu, ma! Bu guru daftarin Jenny ke lomba mengarang tingkat sekolah. Jenny harus bersaing membuat cerita sama murid dari sekolah lain!” jawab Jenny kesal.
‘Loh, terus kenapa? Kan kamu suka membuat cerita!” Tanya mamanya lagi.
“Tapi ini kan, lomba! Kalo Jenny kalah, Jenny kan malu, ma! Bu guru main daftarin Jenny tanpa bilang-bilang dulu lagi!” jawab Jenny.
“Ah, kamu pasti menang! Karya kamu kan, sering dijadikan mading sekolah!”
“Pokoknya Jenny tetap gak setuju!”
Akhirnya, mamanya lelah merayu Jenny karena Jenny tetap keras kepala untuk mencari ide cerita yang sempurna buat lomba itu.
Besoknya di sekolah, Jenny langsung dihampiri teman-temannya.
“Hebat kamu, Jen! Dengar-dengar kamu terpilih ikut lomba mengarang tingkat SD!” kata Yani sambil menyalami Jenny.
“ Iya, kamu memang jagoan kita! Hidup penulis!” sambung Tasya.
“ Ah, kalian semua berlebihan! Aku kan belum tentu menang!” balas Jenny .
“Tentu saja kamu pasti menang! Aku berani taruhan kalau kamu seratus persen menang!” balas Ayu.
“Kalau begitu, tolong Bantu aku cari inspirasi buat cerita lomba!” pinta Jenny.
“Beresss!” kata teman-temannya serempak.
Pas istirahat pertama,
“Waktu lomba tinggal dua hari lagi! Dan aku masih belum dapat ide! Kamu yakin aku pasti menang lomba, Yu?” Tanya Jenny pada Ayu di kantin.
“Pasti donk kamu menang! Percaya diri donk! Lagian kamu masih punya banyak waktu buat cari ide! Bagi anak sepintar kamu, pasti waktunya lebih dari cukup! Kamu tinggal bersikap PD aja!” jawab Ayu sambil memasukkan bakso ikan ke mulutnya.
“Ya ya ya! Sekarang kamu bantuin cari ide! Aku mulai PD nih, kalau kamu mau Bantu aku cari inspirasi!” pinta Jenny.
“ Mmm… Bagaimana kalau kamu tulis tentang…orang gendut, atau fable (dongeng hewan), atau pergaulan remaja?” jawab Anis yang juga ada disitu.
“ Oke deh! Nanti aku pikirin ide itu!” jawab Jenny.
Malam harinya, Jenny dan Ayu menginap di rumah Yani. Disana Jenny mencoba latihan menulis beberapa cerita. Tetapi semuanya langsung dibuang. Jenny menginginkan cerita yang sangat sempurna. Hingga akhirnya ia patah semangat.
“ Aku gak akan bisa menang lomba! Karyaku semuanya kurang bagus! Aku memang hanya jago mengarang di dunia sekolah kita saja, tidak sekolah lainnya!” kata Jenny putus asa.
“Tidah begitu, Jen! Lihat, yang ini saja sudah bagus!” kata Ayu sambil menunjukan salah satu kertas berisi cerira karya Jenny.
“Itu terlalu biasa! Aku yakin masih bisa lebih bagus lagi, bahkan sempurna! Dan aku akan mencoba sampai berhasil!” jawab Jenny membulatkan tekadnya.
“ Itu baru semangat! Kita semua akan dukung kamu, Jen! JENNY! JENNY! GO GO JENNY!” kata Ayu dan Yani serempak.
Besoknya, Jenny masih belum menemukan ide yang diinginkannya. Di kelas pada jam pulang , ia masih saja menulis yang hasilnya selalu masuk tempat sampah, atau dirobek-robek olehnya.
“Astagaaaa!!! Lomba tinggal besok dan aku masih belum dapat ide! Sepertinya inspirasiku kosong sama sekali!” teriak Jenny setelah lelah mencari ide cerita.
“Tidak, Jen! Mungkin kamu hanya perlu hiburan! Kamu dari kemarin sibuk mencari ide! Lebih baik berhenti mencari ide dan ikut kami aja!” Ajak Anis dan Tasya.
Jenny akhirnya menurut. Di ruang AudioVisual, Ada Yani dan Ayu sedang menonton film kartun anak. Jenny sampai bingung tujuannya ia dibawa kesini.
“ih, kalian itu kan udah gede! Masa nonton ginian! Ngajak aku segala lagi!” protes Jenny.
“Justru itu kamu dibawa kesini! Lebih baik kamu nonton film ini. Untuk mendapat ide yang luar biasa, kamu harus mulai dengan yang dasar, lalu imajinasimu akan berkembang menjadi luar biasa!” balas Yani bijak.
“Iya ya! Kalian semua benar! Dengan ini, aku bisa mendapat ide segar! Mari kita nonton film ini!” ajak Jenny mulai bersemangat.
Dan hari yang ditunggu-tunggu pun tiba. Banyak murid dari sekolah lain mengikuti lomba ini. Jenny yang semula tidak suka lomba ini, kini menjadi lebih percaya diri. Lomba pun dimulai. Semua peserta tampak sibuk. Setelah waktu habis, semua peserta mengumpulkan ceritanya masing-masing. Jenny lalu menemui teman-temannya.
;”Gimana, Jen? Gugup enggak?” Tanya teman-temannya.
“ Gugup juga! Tapi aku pasti menang kan? Tenangng aja!” balas Jenny
“Ooh! Jenny pasti menang donk! Jagoan kita di sekolah!” kata teman-temannya lagi.
Besoknya, pemenangnya diumumkan. Dan benar saja. Jenny menjadi pemenang juara 1 penulis cilik terbaik. Kini, Jenny tidak lagi tertutup dalam lomba mengarang apapun. Ia sekarang sudah banyak mengikuti lomba mengarang sampai tingkat nasional. Dan tentu saja dengan uang kemenangannya Jenny selalu mentraktir teman-temannya.
TAMAT
Thursday, May 7, 2009
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment