Sunday, May 24, 2009

BAKAT BARU JAMES

Suatu hari, Sofi mengunjungi rumah temannya sekolahnya, James. James langsung menyambutnya dan mereka pun mulai mengobrol.

James: Fi, tau gak? Kemaren aku gangguin Tamara tonggos sampai dia marah. Kupanggil anak tonggos itu 'pembersih jalan' dan hasilnya dia langsung sambit aku pake sepatunya.
Sofi: Haha! Terus? Kamu apain dia?
James: Ya, enggak kuapa-apain lagi lah! Aku pergi aja. Dia itu kan cewek paling kuat sedunia! Coba kalo aku punya kekuatannya dia, dia pasti sudah lenyap kuhajar!
Sofi: Ah! Imajinasimu makin berkembang saja! Jadiin novel aja!
James: Maksudmu? Aku harus bikin cerita tentang si pendek itu sesuai khayalanku?
Sofi: Yap! Dan bukan itu saja! Coba deh, kamu buat cerita yang menurutmu bagus, terus kasih liat ke aku! Siapa tau kamu berbakat!
James: Oh, boleh juga! Aku mau coba! Besok kukasih liat kamu deh!

James lalu membuat sebuah cerpen semalaman penuh. Esok paginya, James hendak pergi ke apartemen Sofi untuk menunjukkan karya pertamanya. Dick, sahabat lamanya kebetulan lewat. James pun meminta komentar pada Dick.
Dick: (Setelah membaca) Cerita apa nih, James? Kok ada anak jorok dan bau yang selalu dijauhi semua temannya? Kasian sekali dia! Buang tokoh itu dan ceritamu akan sempurna!
James: (Kecewa) Yaah, yaudah deh entar aku ganti, tapi aku mau kasih lihat ke Sofi dulu!

James lalu pergi ke apartemen Sofi dan bertemu dengan Indah, penghuni kamar sebelah kamar Sofi.
Indah: Hai, James! Mau cari Sofi? Dia lagi pergi!
James: Yaah, dua pergi! Tapi kamu mau kan, komentari cerpen baruku ini?
Indah: Mau! (setelah membaca) Ya ampun! Di awal ceritanya aja udah jelek. Masa Tasya minjem boneka sahabatnya, Cinta, lalu balikin dalam kondisi sudah dirusakinya tanpa minta maaf? Lalu dia nuntut dijamu makanan sebagai tamu, dan bawa-bawa kucing yang berantakin rumah Cinta sampai akhirnya tuh kucing ngegondol bonekanya Cinta ke atas pohon. Tasya anak yang gak sopan sekali!
James: Jadi kamu gak suka ceritanya?
Indah: Sama sekali tidak suka! Aku benci anak gak sopan kayak Tasya di ceritamu!

James pun berjalan pulang dengan sebal dan bertemu Tamara di dekat rumahnya. James tidak yakin Tamara menyukai ceritanya, tapi ia butuh pendapat untuk cerpen barunya. Dan ia pun memberi cerpennya pada "Si Tonggos" itu.

Tamara: (setelah membaca) Ahem! Aku gak suka tokoh yang namanya Cinta! Dia itu terlalu baik! Demi menjaga persahabatan saja, ia rela kehilangan bonekanya yang diambil kucingnya Tasya. Kalo aku mah, sudah kupukuli si Tasya, Cinta malah diam aja! Ceritamu jelek!

James pun kesal. Ia juga mencoba pada kawan-kawannya yang lain. Dan hasilnya...
Camile: Kamu ini aneh, James. Yang jelas donk ceritanya. Udah aneh pake tokoh malaikat segala, dan saat malaikat itu menolong kucing Tasya, yang disoraki dan dipuji malah si anak bau!
Agung: Aku kasian sama si pemain bola ini. Masih kecil tapi sok dewasa dan nekat manjat pohon buat nyelametin kucing itu sampe dia luka parah! Ganti dong ceritanya tentang si pemain bola ini biar nggak apes melulu!
Steve: James, kalo mau membuat tokoh penemu cilik, seharusnya penemuannya berhasil, bukannya gagal. Kasian si Samin ini. Gak pernah berhasil jadi penemu cilik.

James pun lelah mendapat kritikan dari semua temannya itu. Ia berniat pulang, lalu ia bertemu Sofi.
Sofi: Hai, James! Udah buat cerita ya? Liat donk ceritamu itu!
James: Percuma! Aku emang gak bisa ngarang. Teman-teman banyak yang gak suka!
Sofi: Tapi aku mau liat dulu! (merebut cerpen itu dari tangan James)
James: Baca aja, terus bilang ke aku tokoh yang kamu gak suka!
Sofi: Aku udah selesai baca kok! Hasilnya gak jelek-jelek amat! Emang apa sih yang gak disukai teman-teman?
James: Banyak! Steve gak suka Samin. Dick gak suka tokoh si anak bau. Indah benci Tasya yang menyebalkan, dan Tamara benci sifat Cinta yang terlalu baik itu.
Sofi: Kita datangi mereka, yuk!

Mereka pun mendatangi teman-teman mereka. Sofi lalu bertanya pada mereka.
Sofi: Emangnya apa alasan kalian gak suka cerita James? Cuma karena ada satu tokoh yang kalian gak suka?
Indah: Bukan menjelekkan cerita James, maksudku. Tapi masa harus ada karakter cewek gak sopan kayak Tasya di cerita itu? Itu kan menjadi contoh gak baik bagi pembaca!
Camile: Trus, ceritanya gak jelas. Masa yang tolongin kucing Tasya itu si malaikat? Dan yang dapet pujian atas penyelamatan itu malah si anak bau?
Steve: Dan kenapa ada penemu cilik yang penemuannya justru gak pernah berhasil? Aneh!
Sofi: Dan kamu Tamara? Apa alasan kamu gak suka tokoh Cinta? Atau kamu cuma masih marah pada James karena dia ngejek kamu?
Tamara: Tidak! Aku bukan pendendam kok! Aku cuma komentari sesuai pendapatku. Memang Cinta terlalu bersahabat dan pasrah meski bonekanya dirusak Tasya. Malah Tasya dijamu sirup lagi. Tokoh kayak gitu mah fiktif, malah terkesan bikin gemas karena mau-maunya dibodohi!
Sofi: Ohh, jadi maksudnya kalian semua gak suka cerita James cuma karena ada tokoh yang kalian gak suka?
Agung: Yah, bisa dibilang begitu. Aku paling kasian sama si pemain bola kecil itu.
Steve: Tapi sepertinya Sofi benar. Kita gak suka cerita itu cuma karena ada tokoh yang kita gak suka. Berarti kita salah menilai cerita itu dong.
Indah: Iya, ya! Kayaknya memang kita salah menilai. Mungkin memang tokoh Tasya sengaja dibuat gak sopan biar ceritanya menarik dan nyambung. Gitu kali ya?
Dick: Yah! Sekarang aku juga ngerti kenapa anak bau itu pertama-tama dibuat dibenci temannya semua. Biar akhirnya dia disukai banyak orang. James, cerita pertamamu ini ternyata menarik juga.

Dan sejak saat itu, James membuat banyak cerita yang dikirimkannya ke majalah ternama dan selalu diterima. Dan diantara teman-temannya semua, ia yang paling berbakat. Dan tentu saja ia masih hobi mengejek Tamara agar khayalannya semakin menjadi-jadi.

TAMAT

SAUDARA MENYEBALKAN

Hari sedang cerah, Dina bersiap menaiki sepedanya. Hari ini ia akan ke taman, menemui sahabatnya, Dhea. Tiba-tiba, datanglah adik kembar Dina yang hobi mengejek Dina yang gembul.

Monica: kakak mau pergi ke mana? Hati-hati sepedanya roboh!
Mina: Sebelum pergi, ganti baju dulu donk! Masa udah gemuk, pake gaun sempit!
Mutiara: Kalo gak nurut sama kita, entar jadi pusat perhatian lho! Hihihi!

Dina sebal pada ketiga adiknya itu. Dina ingin sekali menghajar mereka, tapi karena mereka masih berusia 7 tahun, Dina pasti dimarahi orangtuanya bila mereka menangis. Dina mencuekan mereka dan menaiki sepedanya menuju ke taman, tempat Dhea menunggu. Dina pun disambut baik oleh sahabatnya itu. Mereka sudah bersahabat hampir setahun, meski beda sekolah.

Dhea: Dina, Kok mukamu cemberut? Ulanganmu jelek, ya?
Dina: Sok tau kamu! Aku tuh kesal diledek terus sama trio rese!
Dhea: Adik kembarmu, ya? Sudahlah, lama-lama mereka juga jera ganggu kamu!
Dina: Aku memang harus tunggu setahun agar bebas dari ledekan mereka. Kesal aku!

Mendengar hal itu, Dhea pun terlihat sedih. lalu ia pun mulai bercerita.
Dhea: Tau ga, kamu? Sebenarnya saudaraku lebih banyak dari saudaramu?
Dina: Aku tau! Saudara tirimu, kan? Cuma Kak Dito yang jadi kakak kandungmu!
Dhea: Benar! Orangtuaku sudah bercerai 3 tahun lalu dan mereka kawin lagi dengan orang lain!
Dina: Terus rumahmu bagaimana?
Dhea: Rumahku diambil alih ayah kandungku, papa Davi, bersama keluarga barunya, tante Carrie, Jimmy, Anastasya, dan kak Jerry. lalu ibu kandungku, mama Riri pindah ke rumah Om Ronny, dan si kembar Kim dan Angela.
Dina: Lalu kamu tinggal dimana? Kak Dito juga dimana?
Dhea: (mulai jatuh air matanya) Kak Dito sudah tinggal di Singapura untuk kuliah, dan gak akan kembali lagi! Aku yang harus pindah rumah sebulan sekali! Dan tidak ada keluarga yang paling enak diantara mereka! Di tempat papa Davi, ada Jimmy yang sok ngebos dan main perintah seenaknya! Untungnya Anastasya baik dan mau membela aku dari perintah Jimmy. Dan kak Jerry terlalu sibuk sama urusannya sendiri sampe tidak ada waktu untuk main!
Dina: Dan di tempat ibumu? Gimana kehidupan disana?
Dhea: Mereka saudara angkatku, tapi bukan anak tiri mama Riri. Orangtuaku bercerai karena Om Ronny, si item itu menghamili mama Riri dan melahirkan mereka! Angela sih, lumayan baik, tapi masih suka ngompol di ranjangku! Dan Kim yang paling menyebalkan karena dia hiperaktif dan suka melompat di punggungku tiap pagi bangun tidur! Andai bisa kususul Kak Dito, tapi itu tidak mungkin! Jadi aku harus tinggal bersama mereka! Untunglah kini aku mulai terbiasa!

Dina tercengang mendengar kisah temannya itu dan menyesal. Selama ini ia masih mempunyai keluarga yang utuh dan ia sangat kesal pada ketiga adik kembarnya itu, padahal temannya saja dapat pasrah hidup dengan saudara-saudari tirinya. Dan mulai sejak itu, Dina akan menyayangi saudaranya itu meski sering diejek gendut.

TAMAT

Thursday, May 7, 2009

SUSAHNYA MENGARANG CERITA

Siang ini, Jenny pulang sekolah dan tanpa mengucapkan salam pada mamanya, ia langsung masuk kamarnya, lalu membanting tasnya dengan kesal. Mamanya yang melihat itu, langsung menghampiri anaknya .

“Ada kenapa, sayang? Kok tumben hari ini kesal banget?” Tanya mamanya sambil mengelus kepala anaknya.
“Itu, ma! Bu guru daftarin Jenny ke lomba mengarang tingkat sekolah. Jenny harus bersaing membuat cerita sama murid dari sekolah lain!” jawab Jenny kesal.
‘Loh, terus kenapa? Kan kamu suka membuat cerita!” Tanya mamanya lagi.
“Tapi ini kan, lomba! Kalo Jenny kalah, Jenny kan malu, ma! Bu guru main daftarin Jenny tanpa bilang-bilang dulu lagi!” jawab Jenny.
“Ah, kamu pasti menang! Karya kamu kan, sering dijadikan mading sekolah!”
“Pokoknya Jenny tetap gak setuju!”

Akhirnya, mamanya lelah merayu Jenny karena Jenny tetap keras kepala untuk mencari ide cerita yang sempurna buat lomba itu.

Besoknya di sekolah, Jenny langsung dihampiri teman-temannya.
“Hebat kamu, Jen! Dengar-dengar kamu terpilih ikut lomba mengarang tingkat SD!” kata Yani sambil menyalami Jenny.
“ Iya, kamu memang jagoan kita! Hidup penulis!” sambung Tasya.
“ Ah, kalian semua berlebihan! Aku kan belum tentu menang!” balas Jenny .
“Tentu saja kamu pasti menang! Aku berani taruhan kalau kamu seratus persen menang!” balas Ayu.
“Kalau begitu, tolong Bantu aku cari inspirasi buat cerita lomba!” pinta Jenny.
“Beresss!” kata teman-temannya serempak.

Pas istirahat pertama,
“Waktu lomba tinggal dua hari lagi! Dan aku masih belum dapat ide! Kamu yakin aku pasti menang lomba, Yu?” Tanya Jenny pada Ayu di kantin.
“Pasti donk kamu menang! Percaya diri donk! Lagian kamu masih punya banyak waktu buat cari ide! Bagi anak sepintar kamu, pasti waktunya lebih dari cukup! Kamu tinggal bersikap PD aja!” jawab Ayu sambil memasukkan bakso ikan ke mulutnya.
“Ya ya ya! Sekarang kamu bantuin cari ide! Aku mulai PD nih, kalau kamu mau Bantu aku cari inspirasi!” pinta Jenny.
“ Mmm… Bagaimana kalau kamu tulis tentang…orang gendut, atau fable (dongeng hewan), atau pergaulan remaja?” jawab Anis yang juga ada disitu.
“ Oke deh! Nanti aku pikirin ide itu!” jawab Jenny.

Malam harinya, Jenny dan Ayu menginap di rumah Yani. Disana Jenny mencoba latihan menulis beberapa cerita. Tetapi semuanya langsung dibuang. Jenny menginginkan cerita yang sangat sempurna. Hingga akhirnya ia patah semangat.
“ Aku gak akan bisa menang lomba! Karyaku semuanya kurang bagus! Aku memang hanya jago mengarang di dunia sekolah kita saja, tidak sekolah lainnya!” kata Jenny putus asa.
“Tidah begitu, Jen! Lihat, yang ini saja sudah bagus!” kata Ayu sambil menunjukan salah satu kertas berisi cerira karya Jenny.
“Itu terlalu biasa! Aku yakin masih bisa lebih bagus lagi, bahkan sempurna! Dan aku akan mencoba sampai berhasil!” jawab Jenny membulatkan tekadnya.
“ Itu baru semangat! Kita semua akan dukung kamu, Jen! JENNY! JENNY! GO GO JENNY!” kata Ayu dan Yani serempak.

Besoknya, Jenny masih belum menemukan ide yang diinginkannya. Di kelas pada jam pulang , ia masih saja menulis yang hasilnya selalu masuk tempat sampah, atau dirobek-robek olehnya.
“Astagaaaa!!! Lomba tinggal besok dan aku masih belum dapat ide! Sepertinya inspirasiku kosong sama sekali!” teriak Jenny setelah lelah mencari ide cerita.
“Tidak, Jen! Mungkin kamu hanya perlu hiburan! Kamu dari kemarin sibuk mencari ide! Lebih baik berhenti mencari ide dan ikut kami aja!” Ajak Anis dan Tasya.

Jenny akhirnya menurut. Di ruang AudioVisual, Ada Yani dan Ayu sedang menonton film kartun anak. Jenny sampai bingung tujuannya ia dibawa kesini.
“ih, kalian itu kan udah gede! Masa nonton ginian! Ngajak aku segala lagi!” protes Jenny.
“Justru itu kamu dibawa kesini! Lebih baik kamu nonton film ini. Untuk mendapat ide yang luar biasa, kamu harus mulai dengan yang dasar, lalu imajinasimu akan berkembang menjadi luar biasa!” balas Yani bijak.
“Iya ya! Kalian semua benar! Dengan ini, aku bisa mendapat ide segar! Mari kita nonton film ini!” ajak Jenny mulai bersemangat.

Dan hari yang ditunggu-tunggu pun tiba. Banyak murid dari sekolah lain mengikuti lomba ini. Jenny yang semula tidak suka lomba ini, kini menjadi lebih percaya diri. Lomba pun dimulai. Semua peserta tampak sibuk. Setelah waktu habis, semua peserta mengumpulkan ceritanya masing-masing. Jenny lalu menemui teman-temannya.
;”Gimana, Jen? Gugup enggak?” Tanya teman-temannya.
“ Gugup juga! Tapi aku pasti menang kan? Tenangng aja!” balas Jenny
“Ooh! Jenny pasti menang donk! Jagoan kita di sekolah!” kata teman-temannya lagi.

Besoknya, pemenangnya diumumkan. Dan benar saja. Jenny menjadi pemenang juara 1 penulis cilik terbaik. Kini, Jenny tidak lagi tertutup dalam lomba mengarang apapun. Ia sekarang sudah banyak mengikuti lomba mengarang sampai tingkat nasional. Dan tentu saja dengan uang kemenangannya Jenny selalu mentraktir teman-temannya.

TAMAT