Darryl amat terkejut saat memelototi jam di sebelah ranjangnya. Tepat jam 7 pagi. Padahal ia harus datang jam 6.30 pagi untuk menghadiri rapat persiapan pensi di sekolahnya. Ia pun langsung mengganti baju tanpa mandi terlebih dahulu dan mengambil tasnya. Nanti setelah rapat baru ia akan makan di kantin sekolahnya. Untung saja kantin sekolah buka setiap hari. Karena tidak sempat pamit pada orangtuanya, ia cukup menulis surat yang ditempelkan di pintu kamar mereka. Dengan cepat, ia segera menyetop taksi yang kebetulan lewat dan menyuruh supirnya ngebut.
Tiba-tiba di tengah jalan, muncul asap keluar dari kap taksi itu. Sang supir langsung menghentikan taksinya dan mengeceknya. Darryl pun merasa panik.
"Pak, bagaimana nih? Aku sudah terlambat!" kata Darryl.
"Tapi kalo ngebut kayak tadi, mesinnya panas, Dek. Kalo meledak gimana? Maaf ya, kamu cari taksi lain aja deh!" jawab pak supir.
Darryl langsung membayar taksi itu dan berlari ke sekolahnya. Beruntung sekolahnya sudah dekat, tapi ia disambut dengan tatapan marah dari teman-temannya.
"Waduh, guys! Sorry ya, aku telat bangun!" kata Darryl memelas.
"Tapi ini sudah keterlaluan! Kita baru saja mau pulang! Kita kira kamu memang gak datang! Sekarang kamu pulang saja, deh!" jawab salah seorang temannya.
"Sorry deh! Tapi aku sudah capek jalan! Boleh aku numpang mobil kalian?" tanya Darryl.
"Enak saja! No way! That's not our problem!" jawab teman-temannya ketus.
Darryl lalu membeli mie goreng untuk menghilangkan rasa laparnya dan menghabiskannya. Kemudian ia berjalan dengan lemas. Ia melamun menyesali kecerobohannya. Hari ini adalah hari Minggu, hari di mana ia tak pernah bangun pagi. Namun rapat ini dilaksanakan pada hari ini. Dan ia lupa memasang weker kemarin malam. Betapa sialnya hari ini.
Saat berjalan, sekilas ia melihat bahwa di belakangnya ada sepeda yang berjalan oleng. Darryl menoleh. Ternyata pengemudinya baru belajar mengemudi sepeda dan belum mahir. Akhirnya sepeda itu jatuh ke dalam selokan. Darryl amat terkejut ketika melihatnya sehingga ia pun tidak menyadari bahwa kakinya terus melangkah ke depan walau kepalanya tetap menoleh ke belakang. Karena tidak memerhatikan jalan, Darryl terantuk batu besar di depannya. Lututnya pun berdarah, tetapi ia tidak peduli karena pikirannya terpusat pada sepeda itu. Darryl lega saat melihat bahwa pengemudinya selamat tanpa tergores sedikit pun. Namun sepedanya terperosok ke dalam selokan. Darryl langsung menolong pengemudi itu dan mengantarnya pulang ke rumah pengemudi itu.
Kemudian Darryl kembali berjalan pulang. Ia terpaksa berjalan kaki karena tidak punya ongkos pulang. Dalam perjalanannya, ia melihat ada sebuah koin berguling melewatinya. Darryl yang moneyboy langsung berusaha mengejar koin itu hingga ke pelosok kota. Sayang, koin itu langsung ditangkap oleh seorang bocah yang sedang bermain bola. Darryl selain gagal mendapatkan koin itu, kini perjalanan pulangnya juga semakin jauh. Ia pun berjalan lagi. Akhirnya sampailah ia di rumahnya.
Di rumahnya, Darryl bingung karena ada Andre dan Pak Angga, ayah Andre. Andre adalah sahabat baiknya, sedangkan Pak Angga adalah seorang komandan polisi. Pak Angga tersenyum kagum pada Darryl, membuat Darryl tambah heran.
"Darryl, kamu tahu maksud Bapak ke sini?" tanya Pak Angga. Darryl menggeleng.
"Kamu adalah anak paling beruntung di dunia ini! Belum pernah Bapak melihat keajaiban sebesar ini! Sungguh luar biasa!" kata Pak Angga.
"Maksud Bapak?" jawab Darryl terheran-heran dengan sikap Pak Angga.
"Ada sekelompok penjahat yang mau menculikmu. Mereka adalah orang-orang suruhan dari saingan Papa!" jawab Pak Yadi, ayahnya. Beliau mulai bercerita, "Tadi pagi mereka menunggumu di sekolah karena mereka tahu bahwa kamu akan datang ke sana. Tetapi mereka tidak memperhitungkan ketelambatanmu sehingga mereka kira kamu tidak datang!".
"Sebelum mereka pergi menjauh, mereka melihatmu datang.", lanjut Pak Angga. "Lalu mereka menunggumu di tengah jalan untuk menangkapmu! Tetapi karena kamu malah menolong pengemudi sepeda itu dan mengantarnya pulang, kamu tidak jadi melewati jalan pulang sehingga mereka tidak bisa menangkapmu. Lalu mereka menunggumu di dekat rumah. Tetapi karena kamu mengejar koin hingga terlambat pulang, polisi bisa terlebih dulu menangkap mereka!".
Darryl kagum mendengarnya. "Lalu Bapak tau darimana tentang semua ini?" tanya Darryl lagi.
Ayahnya menjawab, "Papa sudah curiga dengan mereka saat kemarin melihat saingan Papa itu sedang menelepon seseorang untuk beraksi di sekolahmu. Karena itu Papa minta Pak Angga untuk menyelidiki dan mengikutimu, serta mengirim polisi!"
Darryl amat kagum. Ternyata kesialannya hari ini justru menyelamatkan dirinya. Ia tak menyangka Tuhan Maha Adil telah menyelamatkannya. Hal yang luar biasa dalam hidupnya. Sejak saat itu, ia lebih rajin bersyukur dan jarang mengeluh.
TAMAT
Wednesday, June 9, 2010
Subscribe to:
Posts (Atom)