Ada sebuah keluarga yang terdiri dari sepasang suami-istri, Vincent dan Utami, serta kedua putri mereka, Astri dan Titi. Astri adalah mahasiswi yang lembut dan dewasa. Sedangkan adiknya, Titi adalah anak yang polos dan manja. Suatu hari, mereka sedang sarapan bersama.
"Anak-anak, hari ini papi dan mami akan menghadiri rapat kantor. Jadi kami tidak bisa menjemput Titi dari sekolahnya. Astri, tolong sepulang kuliah kamu jemput Titi.", kata Vincent.
"Baik, Pi.", jawab Astri.
"Boleh nggak, Titi pulang sendiri. Kan jarak dari sekolah ke rumah tidak terlalu jauh.", tanya Titi.
"Tidak boleh! Kamu belum mampu untuk pulang sendiri. Kamu masih lugu.", jawab Utami.
"Tapi Titi mau pulang sendiri.", mohon Titi sambil memelas.
"Berilah ia kesempatan, Mi. Mungkin ia sudah bisa.", kata Astri.
"Titi belum bisa, Astri. Kamu tetap harus menjemputnya.", kata Utami.
"Baik Mi.", jawab Astri.
"Huh! Titi diperlakukan seperti anak kecil.", keluh Titi.
Pada pukul 2 siang, Astri dari kampusnya baru saja mau bergegas ke sekolah Titi. Tiba-tiba Edward datang sambil membawa buku tebal.
"Astri, tolong jelasin pr dari ibu dosen donk. Tadi gue ketinggalan, soalnya gue ada urusan di tata usaha.", kata Edward.
"Boleh Edward, tapi jangan lama-lama. Gue harus jemput Titi dari sekolahnya.", jawab Astri.
"Sip. Nanti gue sekalian ikut, ya. Habis jemput Titi, kita jalan-jalan di taman sambil beli es krim.", jawab Edward.
"Boleh. Ayo sini gue jelasin pr nya.", kata Astri.
Sementara di sekolah, Titi menunggu Astri sebentar. Namun karena Astri tidak muncul, Titi tidak sabar. Ia berjalan sendiri, tetapi ia tidak hafal rute pulang. Akhirnya ia berhenti di sebuah halte yang tidak jauh dari sekolahnya. Lalu muncul seorang pemuda bernama Tommy. Ia melihat Titi dan tertarik untuk menggodanya.
"Wah, sepertinya anak itu bingung. Ajak ngobrol, ah..", gumam Tommy nakal. Dia mendekati Titi.
"Kamu belom pulang, Dek?", tanya Tommy. Titi menoleh.
"Belom, Kak. Kak Astri belom jemput. Titi gak tau jalan pulang.", jawab Titi.
"Astri itu kakakmu? Dia cantik ga? Pasti juga kaya.", kata Tommy.
"Kakak siapa? Papi bilang Titi gak boleh kasih tau hal-hal pribadi ke orang tak dikenal.", jawab Titi.
"Oh, Kalau begitu kita kenalan dulu donk. Nama kakak Tommy. Jadi sekarang Titi sudah kenal kakak ya. Rumahmu dimana?", tanya Tommy.
"Gak tahu. Makanya Titi ga bisa pulang, harus tunggu Kak Astri jemput.", jawab Titi polos.
Dalam hati Tommy berkata, "Dasar anak dodol. Mending gue kerjain. Biar bisa bersenang-senang. Hahah."
Lalu Tommy menarik tangan Titi, "Ayo, kakak temani kamu pulang." Mereka pun berjalan pergi.
Sementara itu Astri dan Edward tiba di sekolah, tetapi mereka tidak menemukan Titi.
"Aduh, Titi dimana ya?", tanya Astri cemas.
"Kita tanya satpam saja, yuk. Mungkin saja mereka tahu.", usul Edward. Mereka berdua pun menemui dua orang satpam yang bernama Rio dan Hasan.
"Permisi, Pak. Apa Bapak tahu dimana Titi, adek saya?", tanya Astri.
"Titi? Maaf, aku tidak melihatnya.", jawab Hasan.
"Tadi saya lihat dia pergi sendirian. Maaf, Bu. Harusnya saya cegat dia.", kata Rio menyesal.
"Apa?! Jadi Titi pergi sendiri? Aduh, bagaimana kalau dia hilang?", jawab Astri terkejut dan resah.
"Tenang, Astri. Kita pasti bisa menemukan Titi. Pasti dia belum jauh dari sini.", kata Edward menenangkan.
"Ini salah gue. Gue ingat tadi pagi dia bilang kalau dia mau pulang sendiri. Pasti dia sengaja pergi sebelum gue datang.", kata Astri menyesal.
"Kami akan bantu kalian. Kami juga tidak mau Titi tersesat.", kata Hasan berjanji.
Sementara itu, Tommy dan Titi berhenti di depan sebuah rumah.
"Kita ada dimana, Kak?", tanya Titi bingung.
"Di rumah gue. Kita istirahat dulu di sini, ya.", jawab Tommy.
"Katanya Kak Tommy mau antar Titi pulang.", kata Titi protes.
"Gak usah banyak omong! Buruan masuk!", perintah Tommy.
"Kita mau ngapain di sana?", tanya Titi lagi.
"MASUK!!!", bentak Tommy sambil mendorong Titi hingga hampir terjatuh.
"Kak Tommy mau ngapain?", tanya Titi mulai ketakutan.
"Mau bersenang-senang. Hahaha.", jawab Tommy santai sambil menutup pintu.
"Titi takut, Kak. Titi mau pulang. Huuaaa...", rengek Titi, lalu ia cepat-cepat berlari.
Tommy mengejarnya semakin mendekat. Titi langsung mengambil HP dan menelepon Astri.
"Kak Astri!!!", panggil Titi dalam telepon.
"Titi, kamu ada dimana?", tanya Astri sedikit lega karena Titi meneleponnya.
"Kak, Titi disandera sama Kak Tommy. Tempatnya ada di gang kecil di antara rumah susun. Cepat datang, Kak!! AAHHH.....!!!!!!", jawab Titi panik karena Tommy berhasil menangkapnya dan merebut HP itu dari tangannya, lalu mematikannya.
"Jangan macam-macam!", ancam Tommy pada Titi
.
"TITI!!!!!!!!!!!!", teriak Astri memanggil adiknya, tetapi hubungan telepon sudah terputus.
"Ada apa, Astri?", tanya Edward terkejut.
"Titi disandera orang bernama Tommy. Aduduh... gimana cara menyelamatkan Titi?", jawab Astri panik.
"Tommy?! Gawat!", kata Edward tiba-tiba menjadi sangat khawatir.
"Loe kenal Tommy?", tanya Astri.
"Tommy adalah teman SMA gue dulu. Tapi dia suka bikin onar dan dikeluarin dari sekolah. Kalau Titi dibawa dia, gue gak bisa ngebayangin nasibnya Titi.", cerita Edward.
"Astaga!! Jangan sampai terjadi sesuatu pada Titi!", kata Astri lagi. Kini ia sungguh-sungguh panik.
"Ada masalah apa, Bu?", tanya Rio.
"Adik saya disandera. Tolonglah kami, Pak. Bantu kami menyelamatkan Titi.", jawab Astri memohon.
"APA?! Adikmu disandera? Wah, ini kasus serius yang harus segera ditangani.", jawab Hasan.
"Kita harus cepat menyelamatkannya. Dimana lokasi kejadiannya?", tanya Rio.
"Di gang kecil antara rumah susun.", jawab Astri.
"Gue tahu tempat itu. Rumah Tommy masih di tempat yang sama. Ayo, kita kesana.", kata Edward.
Maka mereka semua segera menuju tempat itu.
Sementara itu Titi duduk terpojok di ujung tembok. Di depannya, Tommy menghalangi Titi agar tidak lari.
Titi mulai menangis. "Tolong jangan sakiti Titi, Kak.", mohon Titi.
"Loe ngerti artinya 'perkosa'? Gue mau nunjukkin ini buat loe.", kata Tommy.
"Tapi Titi belum cukup umur untuk diperkosa.", jawab Titi polos.
"Kocak! Jangan ngelucu loe!", jawab Tommy geli.
Tiba-tiba pintu didobrak oleh Hasan. Tommy menoleh, melihat mereka yang berdiri di depan pintu.
"Astaga!! Titi!", jerit Astri.
"Kak! Tolong Titi, Kak.", kata Titi.
"Lepaskan dia, Tommy. Jangan hanya berani sama anak kecil. Jangan jadi cemen.", kata Edward.
"Bacot loe, Edward. Ngapain loe ke sini? Loe ngerusak acara gue tau!", jawab Tommy kesal.
"Mari ikut kami, Pak.", kata Rio sambil menyeret Tommy dibantu Hasan.
"Kamu harus diberi pelajaran atas perbuatanmu pada anak ini.", kata Hasan.
Astri segera memeluk Titi, "Kamu baik-baik saja, Titi?". Titi menggeleng sambil terus menangis.
"Sudah! Tenang, Titi! Kamu sudah selamat sekarang.", kata Edward menenangkan.
Astri dan Edward membawa Titi keluar dari rumah itu. Tampak kedua satpam itu mengikat Tommy pada dua pilar kecil.
"Beh! Lepasin gue!! AAHHH!!!!!!", Tommy berusaha memberontak.
"Lihat!", Edward menunjuk ke arah Tommy, "Tommy kini sudah tertangkap. Dia enggak akan mengganggu kamu lagi. Kamu enggak perlu takut sekarang."
"Selamat tinggal, Titi. Mungkin kita bisa ketemu lagi. Tunggu saja tanggal mainnya!", goda Tommy sambil berusaha melepaskan kedua tangannya yang terikat erat.
"Diam kamu! Sekarang juga kami akan memanggil polisi untuk menangkap kamu.", kata Hasan sambil mengeluarkan HP nya.
"Titi, dia enggak akan mengganggu kamu lagi. Tapi janji ya, kamu jangan pergi sendirian lagi.", kata Edward menenangkan. Titi masih terus menangis dalam pelukan Astri.
"Makasih banyak atas pertolongannya, Pak.", kata Edward pada kedua satpam.
"Oh tentu. Sama-sama. Sebentar lagi polisi sampai disini, menangkap si pengacau.", jawab Rio ramah.
Mereka bertiga pun meninggalkan Tommy bersama kedua satpam itu. Edward mengantar Astri dan Titi sampai di depan rumah mereka. Ketika mereka masuk ke dalam rumah, orangtua mereka terlihat cemas.
"Kalian ke mana saja dari tadi? Astri, seharusnya kamu telepon dulu kalau mau pulang sore. Kasihan Titi. Untung dia baik-baik saja.", omel Utami kesal.
"Iya, Mi. Maaf.", jawab Astri pelan.
"Baik-baik saja? Mami, tadi Titi hampir diperkosa.", protes Titi mengejutkan kedua orangtuanya.
"A..a..APA?!", tanya Vincent sungguh kaget.
"Yang benar saja, Titi!", kata Utami dengan suara bergetar.
"Iya, Mi. Tadi Titi nyaris diperkosa. Untunglah kami segera datang dan menolongnya.", angguk Astri.
"Astaga, Titi. Lain kali kamu harus hati-hati, Nak. Kota ini benar-benar tidak aman. Orang yang mau memperkosamu bisa langsung membunuhmu. Mulai sekarang Titi harus dijaga lebih ketat. Kasihan dia, pasti shock karena hampir diperkosa.", kata Utami tegas. Ia memeluk Titi dengan erat.
"Titi masih takut sama Kak Tommy.", kata Titi sambil memeluk ibunya.
"Dia sekarang sudah dibawa ke kantor polisi. Kamu jangan takut lagi, sayang.", kata Astri iba.
Astri lalu menuntun Titi ke kamar mereka dan berganti pakaian. Kemudian mereka menuju ruang makan.
Saat makan malam, Utami berkata, "Titi, itulah sebabnya kami tidak mengizinkanmu untuk pergi sendiri. Di luar sana sungguh berbahaya bagi kamu. Papi dan Mami selalu khawatir dengan keadaan kamu."
"Kenapa Titi gak penah bisa dewasa, ya?", keluh Titi sambil menyuapkan makanan ke mulutnya.
"Tentu kamu bisa, Titi. Tapi bukan sekarang waktunya. Kamu harus belajar mandiri dulu.", jawab Utami.
"Bagaimana kalau mulai besok Astri jemput Titi pulang sekolah dengan berjalan kaki? Jadi Titi bisa hafal jalan pulang ke rumah. Dengan melihat Astri bersikap tegas, Titi juga bisa belajar bersikap berani dan tegas pada orang-orang asing yang membujuknya.", saran Astri.
"Papi setuju sama Astri. Itu bukan ide yang jelek.", jawab Vincent.
"Hmm... bolehlah. Tapi kamu harus jaga dia baik-baik! Jangan sampai hal tadi terulang lagi.", jawab Utami lagi. Titi tersenyum lebar. Matanya berbinar-binar.
"Kamu pasti mau kan, Titi?", tanya Astri sambil mengedipkan sebelah mata. Titi langsung mengangguk. Ia tampak senang sekali.
Sejak saat itulah Titi pulang sekolah bersama Astri. Ia tidak lagi dijemput orangtuanya. Suatu hari Edward mengajak mereka berdua pergi ke taman kota. Titi membeli es krim, sedangkan Edward dan Astri duduk berdua di bangku taman.
"Ide loe hebat buat ajak Titi pulang bareng. Gue bangga sama loe, Astri.", kata Edward merangkul Astri.
"Jelas donk. Astri gitu loh. Haha.", jawab Astri kemudian. Mereka tertawa bersama.
"Ini es krimnya, Kak.", kata Titi muncul tiba-tiba.
"Oh, makasih, Titi.", kata Astri lembut. Ia dan Edward mengambil es krim bagiannya.
"Kalian berdua mesra sekali.", kata Titi tersenyum.
"Masa sih? Jadi malu gue.", jawab Astri.
"Hehehe.", tawa Edward. Hari itu sungguh terasa indah.
TAMAT
Wednesday, July 6, 2011
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment